Categories
Bahasa Bugis

Nasib Bahasa Bugis Di Tangan Kaum Milenial

Bahasa bugis adalah salah satu bahasa yang digunakan oleh etnik Bugis di Sulawesi Selatan, dan masuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Berbicara mengenai bahasa daerah, tidak hanya dialami oleh bahasa Bugis saja, namum hampir semua bahas daerah yang ada di seluruh Indonesia mengalami nasib yang cukup tragis dikalangan kaum milenial.

Bahasa bugis sendiri terdiri dari beberapa dialek. Seperti halnya dialek Bone (yang berbeda antara Bone selatan dan Utara), dialek Wajo (juga berbeda antatara Wajo bagian Utara, Selatan, Timur, dan Barat), dialek Pinrang yang ada kemiripan dengan dialek Sidrap, dialek Soppeng, dialek Sinjai, dialek Barru, dan sebagainya.

Selain dialek yang berbeda, sebenarnya terdapat juga beberapa kosakata yang berbeda, misalnya saja dialek Sidrap dan Pinrang saat menyebut kata Loka untuk pisang. Sementara itu, dialek Bugis yang lain menyebut Otti atau Utti. Namun yang paling berbeda adalah Kabupaten Sinjai, setiap bahasa Bugis yang ada huruf “W” diganti dengan huruf “H”.

Tulisan Bugis Tradisional

Tulisan Bugis tradisional tidak memiliki tanda konsonan. Oleh sebab itu bisa dikatakan cukup sulit pada saat dibaca jika tidak melihat kalimat secara keseluruhan. Jika membaca satu kata saja, potensi salah baca cukup besar. Hal ini disebabkan kata tersebut bisa dibaca dengan berbagai bacaan.

Ini bisa dikatakan sebagai kelemahan terbesar dari bahasa Bugis tradisonal. Namun di sisi lain juga memiliki kelebihan tersendiri. Oleh sebab itu, sampai saat ini masih tetap saja ada segolongan masyarakat terutama golongan lama yang masih juga mempertahankan tulisan tradisional semacam ini.
Namun yang patut disayangkan adalah banyak remaja Bugis yang kurang berminat untuk belajar bahasa warisan nenek moyangnya ini. Justru mereka lebih semangat pada saat belajar bahasa negara lain, semisal bahasa Inggris.

Modernisasi Bahasa Bugis

Dewasa ini, arus globalisasi memiliki pengaruh yang cukup besar. Dunia modern yang setiap detik selalu memberikan efek serta pengaruh terhadap kehidupan masa kini, terlebih lagi bagi para remaja. Globalisasi ini sejatinya sudah berhasil mengubah pola hidup para remaja sekarang, mulai dari mode hidup, pakaian, minat, bahasa, dan lain sebagainya.

Berbicara terkait dengan bahasa, fakta yang ada saat ini kebanyakan dari para kaum milenial lebih banyak yang fasih melafalkan bahasa asing ketimbang bahasa daerahnya masing-masing.

Contoh sederhananya apa yang saat ini dialami oleh bahasa Bugis. Remaja Bugis saat ini bisa dikatakan lebih mengusai bahasa asing semisal Inggris, Mandarin, Korea, ketimbang bahasa Bugis itu sendiri.
Banyak para remaja yang beranggapan jika interaksi sehari-hari dalam bahasa Bugis itu sama dengan Kamseupay, atau yang lebih dikenal dengan “kurang gaul”, kampungan, ketinggalan zaman, dan tidak modern.

Padahal semestinya budaya daerah sendiri sangatlah perlu untuk ditingkatkan dan terus dilestarikan supaya ciri khas dan karakter dari daerah tersebut tetap dominan. Bukan justru lebih mengembangkan budaya asing di tanah kelahirannya sendiri.

Perkembangan Bahasa Bugis

Dalam perkembangannya, saat ini bisa dikatakan sudah terjadi ketidakseimbangan antara bahasa Bugis dan bahasa asing yang kini mulai merambat dalam wilayah Bugis. Bagaimana tidak? Bisa dikatakan hampir 80% setiap harinya para remaja Bugis memilih berinteraksi dengan menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan tidak sedikit juga yang menggunakan bahasa Inggris.

Memang kondisi seperti ini sebenarnya tidak bisa disalahkan. Apalagi bahasa Indonesia ini memiliki peran yang cukup besar dalam hal pergaulan yang lebih luas seperti pergaulan lingkup Indonesia. Selain itu, bahasa Inggris juga merupakan bahasa Internasional yang digunakan untuk komunikasi lingkup Internasional.

Tapi tidak berarti juga bahasa Bugis yang merupakan bahasa tradisional warisan budaya suku Bugis ini harus tenggelam begitu saja hanya dikarenakan bahasa asing yang merambat di wilayah Bugis.

Fakta lain yang memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara perkembangan bahasa Bugis dan bahasa asing adalah cukup banyak remaja Bugis yang tidak tahu arti dari bahasa derahnya tersebut.

Fakta selanjutnya yang memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara bahasa Bugis dengan bahasa asing dan bisa dikatakan fakta yang cukup miris adalah adanya rasa gengsi dan malu para remaja Bugis untuk menggunakan bahasa daerahnya dalam berkomuniasi.

Kerap kali ada anak-anak yang berkomuniaski dengan menggunakan bahasa Bugis ini justru malah ditertawakan dan langsung di-judge anak tersebut pastilah berasal dari derah pedalaman, buktinya bahasa yang digunakan belum modern.

Hal seperti inilah yang nantinya bisa melekat dalam diri setiap individu dan akan terus berkembang sampai dirinya menuju masa remaja dan memilih berkomunikasi dengan bahasa yang dianggapnya lebih modern (bahasa Indonesia atau bahasa Inggris).

Dan dengan demikian, lagi-lagi seorang anak-anak yang awalnya mulai ada keinginan untuk menggunakan bahasa daerahnya saat berkomuniaski, kini mulai hilang lagi lantaran adanya rasa gengsi tersebut.

Sesuai dengan kata pepatah “Jika ada asap pasti ada api”. Demikian juga dengan hal di atas tadi. Tidak mungkin bahasa Bugis yang kurang diminati oleh para kamu milenial terjadi tanpa adanya sebab.

Dan, faktor terbesar yang menyebabkan hal seperti itu bisa terjadi karena ada pengaruh yang cukup signifikan dari modernisasi, yang semakin hari semakin menuntut untuk menggunakan bahasa Internasional saat berkomunikasi.
Memang benar, modernisasi menuntut untuk mengarah ke hal yang berbau Internasional serta sesuai dengan perkembangan teknologi dan komunikasi, Tapi kenapa juga harus mengesampingkan bahasa Bugis yang sudah menjadi kebudayaan turun-temurun dari nenek moyang Anda sendiri.

Categories
Bahasa Bugis

Sekilas Mengenal Bahasa Bugis Warisan Nenek Moyang Di Indonesia

Bahasa bugis merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di nusantara. Bahasa ini digunakan oleh masyarakat yang ada di Sulawesi Selatan. Bahasa tersebut menjadi tumpuan utama manakalah seseorang ingin mengkomunikasikan sesuatu dengan orang lain.

Pengenalan bahasa daerah sangatlah penting. Terutama bagi Anda yang ingin mengetahui keragaman yang ada di nusantara. Dan mempelajarinya adalah salah satu cara Anda untuk memahami lebih dalam mengenai suku bugis itu sendiri.

Permasalahan saat ini, bahasa ini hanya menjadi bahasa sehari-hari dari masyarakat sekitar. Namun ada beberapa orang yang memiliki darah bugis, tetapi dirinya tidak pernah berkomunikasi dengan bahasanya.
Ini tentunya tidaklah baik. Mengingat bahasa merupakan sebuah identitas. Dan bahasa juga sebagai bagian dari pemersatu dari satu golongan tertentu. Yang kami maksud adalah pemersatu suku kedaerahan itu sendiri.

Kenapa Belajar Bahasa Bugis?

Indonesia mewarisi budaya ketimuran yang dianggap lebih sopan. Setidaknya, inilah yang masuk dalam pandangan orang-orang mancanegara. Warisan budaya yang ada di nusantara juga melimpah ruah.
Ini sangatlah wajar mengingat banyak suku yang mendiami bumi nusantara. Salah satunya adalah suku bugis ini. Namun begitu, belum jelas dari mana asal usul dari suku ini lantaran tidak ada bukti otentik yang menjelaskan tentangnya. Walaupun begitu, suku bugis sudah kadung menjadi bagian dari Indonesia. Dan suku ini menandai kayanya khasanah bahasa dan budaya di nusantara.

Bagi sebagian orang, belajar bahasa bugis nampaknya bukanlah sesuatu yang menarik. Selain komunikasi sudah banyak dipengaruhi oleh bahasa Indonesia, bahasa suku bugis terbilang agak sulit untuk dipahami.
Namun Anda harus tahu. Warisan budaya yang diturunkan oleh suku bugis cukuplah banyak. Sejumlah pemikiran dari nenek moyang terdahulu telah dituangkan dalam sebuah karya sastra. Ini seakan menunjukkan jika orang terdahulu ingin membagikan kekhasannya pada anak cucunya.

Dan perlu diketahui jika karya sastra I Ligaligo merupakan buah dari pemikiran orang jaman dahulu. Di dalamnya terdapat kisah unik yang dipandang lebih menarik ketimbang kisah Mahabarata.
Tentu saja, kisah ini ditulis dalam bahasa bugis dengan aksara Lontara. Anda yang tidak mengetahui bahasa ini jelas tidak bisa mengambil manfaat darinya. Padahal, ini adalah warisan budaya yang diharapkan bisa dipahami oleh anak cucunya.

Uniknya, karya sastra dari buah pemikiran suku bugis terdahulu ini tersimpan rapi di Belanda. Ini menunjukkan kalau orang yang bukan suku bugis malah lebih menghargai budaya. Anda sendiri yang tinggal di nusantara harusnya lebih berhak tahu ketimbang orang lain. Makanya, penting bagi Anda untuk mempelajarinya.

Dialek Dalam Bahasa Bugis

Bahasa bugis merupakan salah satu bahasa astronesia. Bahasa ini digunakan oleh etnik bugis dan tersebar di hampir seluruh kabupaten di propinsi Sulawesi Selatan. Meskipun digunakan oleh masyarakat di Sulsel, nyatanya ada perbedaan dialek di masing-masing kabupaten. Dialek bahasa ini sangatlah banyak. Diantaranya adalah dialek Sidrap, Pinrang, Bone, Soppeng, Wajo, Barru dan Sinjai. Dialek-dialek ini menandai adanya perbedaan dalam penyebutan sebuah kata yang sama yang dianggap berlainan makna.

Contohnya adalah penyebutan pisang. Dialek pinrang dan Sidrap menamainya dengan Loka. Sementara yang lain menyebutnya dengan Otti ataupun Utti. Perbedaan inilah yang kadang membuat komunikasi menjadi salah paham dan terkesan istimewa jika dikomunikasikan oleh orang dengan dua dialek yang berbeda.

Sifat Huruf Lontara Dalam Bahasa Bugis

Perlu diingat bahwa huruf lontara adalah huruf kebanggaan dari masyarakat Sulsel. Huruf-huruf ini agaknya perlu dipelajari lebih detail manakala Anda ingin mengetahui karya sastra I Lagaligo.

Huruf tersebut memiliki sifat silabis. Maksudnya adalah huruf tersebut selalu diikuti dengan huruf vocal. Ini menjadi kekhasan yang kadang akan sulit dipahami oleh Anda yang baru belajar.

Contohnya adalah dalam penulisan sekaligus pengucapan kata Bambang. Di dalam penulisannya, penulisannya hanya butuh dua huruf berupa Ba. Jadi, pengucapannya nampak berulang.
Kemudian yang perlu diingat bahwa bahasa ini tidak memiliki huruf mati. Terkecuali jika huruf ‘NG’. Contohnya adalah sadang, ladang dan kata lain yang berakhiran dengan ng.

Menariknya lagi, sangat banyak kosakata yang mengalami penekanan ketika dibaca. Akhiran beberapa kata itulah yang mengalami penekanan. Contohnya adalah kata lipa’ yang bermakna sarung.
Dalam melafalkan kata lipa, Anda wajib membunyikan dengan penekanan pada akhir kata tersebut. Penekanan ini disebut dengan istilah glottal stop. Pelafalannya hampir mirip dengan bila Anda membaca kata dalam bahasa arab yang berakhiran hamzah sukun.

Dalam perkembangannya, bahasa ini mulai mengadopsi sejumlah kata dalam bahasa selain bugis. Entah itu bahasa Indonesia, bahasa arab dan bahasa-bahasa lainnya. Jadi, kadang Anda akan gagal paham jika tidak benar-benar mengetahuinya.

Betapa tidak, satu kosakata saja berlainan makna. Contohnya adalah kata lihat. Dalam bahasa Indonesia berarti melihat sesuatu dengan mata, tapi dalam bahasa bugis bermakna tidak tahu.
Bisa dibayangkan jika orang bugis menggunakan campuran bahasa bugis dan Indonesia. Pendengarnya akan gagal paham. Makanya, cara agar tidak salah paham adalah belajar sedikit demi sedikit bahasa daerah tersebut.

Nah, dalam pengadopsian bahasa lain, suku bugis nampaknya masih sangat kental dalam kekhasannya. Kosakata yang diambil dari bahasa luar akan dimodifikasi dan dilafalkan sesuai bunyi dalam bahasa bugis.

Contohnya adalah nama Muhammad. Kata ini jelas dari bahasa arab. Kemudian untuk orang bugis, masyarakatnya menyebut kata tersebut dengan Muhamma’ dengan apostrop di bagian akhir kata.
Kesimpulannya, kepedulian Anda terhadap bangsa sendiri tentunya dicerminkan dengan upaya melestarikan budayanya. Mulai dari bahasa, adat kebiasaan dan lain sebagainya.

Categories
Bahasa Bugis

Cara Cepat Belajar Bahasa Bugis! Mengenal 9 Kata Tanya Dalam Bahasa Bugis

Mengenal kata tanya dalam bahasa yang sedang dipelajari adalah sebuah keharusan. Pasalnya kata tanya seperti ini termasuk dalam percakapan sehari-hari dan sudah pasti sangat sering digunakan oleh para penutur asli bahasa tersebut. Seperti bahasa Inggris misalnya, saat mengikuti tempat kursus bahasa Inggris di Jakarta Utara, pasti kamu diajarkan mengenai hal ini.

Hal ini juga berlaku dalam bahasa Bugis. Ada 9 kata tanya yang paling sering digunakan oleh masyarakat Bugis untuk berkomunikasi setiap harinya. Ke-9 kata tanya tersebut adalah aga, iga, pékkoga, maga, manengka, siaga, gara, appa, dan sianna.

Bagi yang sedang belajar bahasa Bugis, yang perlu dipahami adalah bahasa Bugis ini dikenal memiliki cukup banyak dialek. Sehingga kamu harus teliti supaya tidak salah saat mengucapkannya.

Mengenal Kata Tanya Aga (Apa) Dalam Bahasa Bugis

Image Source: panrita[dot]news
Kata tanya aga ini seringnya digunakan untuk menanyakan nama benda, keadaan, ataupun perbuatan. Jadi kata tanya aga ini bisa digunakan untuk menanyakan nama apapun selain manusia. Contohnya Âga asenna iyyaé? (Apa namanya itu?).

Mengenal Kata Tanya Iga (Siapa) Dalam Bahasa Bugis

Kata tanya iga ini umumnya digunakan untuk menanyakan nama manusia ataupun suatu perbuatan. Oleh sebab itu, jika kamu ingin menanyakan nama seseorang dengan menggunakan bahasa Bugis maka jangan menggunakan kata aga tetapi gunakanlah kata iga. Contoh Îga asetta’? (Siapa nama kamu?).

Mengenal Kata Tanya Pékkôga (Bagaimana) Dalam Bahasa Bugis

Kata tanya pékkôga ini fungsinya adalah untuk menanyakan penjelasan tentang suatu hal tertentu. Oleh sebab itu, jawab yang diharapkan adalah proses yang melatar belakangi suatu keadaan. Contohnya Pékkôga carâna dijâma iyyaé? (Bagaimana cara mengerjakan ini?).

Mengenal Kata Tanya Mâga (Bagaimana) Dalam Bahasa Bugis

Meskipun secara arti sama dengan pékkôga, tetapi secara penggunaannya jauh berbeda. Sebab kata tanya mâga ini umumnya digunakan untuk menanyakan peristiwa yang dialami atau informasi yang ditengkap indra pengamat. Contoh Mâga dîta gajaé? (Bagaimana kelihatannya gajah itu?).

Mengenal Kata Tanya Manengka (Mengapa) Dalam Bahasa Bugis

Kata mâga dalam bahasa Bugis memiliki turunan yaitu mâgai naengka. Kata tanya mâgai naengka ini secara fungsi untuk menanyakan sebab terjadinya sesuatu. Namun, didalam penggunaannya, khususunya di daerah Bone Timur, kata mâgai naengka ini sering disingkat dengan manengka. Contoh Manengka lélengmu `moto’? (Mengapa cepat sekali kamu bangun?).

Mengenal Kata Tanya Siâga (Berapa) Dalam Bahasa Bugis

Image Source: makassarterkini[dot]id
Di dalam bahasa Bugis, kata tanya siâga ini fungsinya adalah untuk menanyakan jumlah. Contohnya Siâgani ana’ta’? (Sudah berapa anak kamu?).

Mengenal Kata Tanya Gara (Apakah) Dalam Bahasa Bugis

Umumnya, kata gara ini digunakan untuk mengklarifikasi atau mengkonfirmasi atas pernyataaan yang dilontarkan si penanya. Contoh Dé muissekka’ gara? (Apakah Kamu tidak mengenalku?).

Mengenal Kata Tanya Appa (Kapan) Dalam Bahasa Bugis

kata appa ini digunakan ketika ingin menanyakan sesuatu yang terjadi di masa depan. Dan kata appa ini tidak pernah berdiri sendiri. Jadi selalu bergabung dengan kata ganti. Contoh Appammu `lîsu? (Kapan kamu pulang?).

Mengenal Kata Tanya Sianna (Sejak Kapan) Dalam Bahasa Bugis

Sebenarnya, kata sianna ini berasal dari kata siaganna. Fungsinya adalah untuk menanyakan waktu terjadinya suatu peristiwa yang sudah selesai di masa lalu dan peristiwa dari masa lalu yang masih berlangsung hingga saat ini.

Itulah beberapa contoh kata tanya dalam bahasa Bugis. Semoga membantu dan selamat belajar bahasa Bugis!

Categories
Bahasa Bugis

40 Kosa Kata Bahasa Bugis Sehari–hari Beserta Artinya

Bahasa Bugis merupakan salah satu bahasa daerah yang memiliki penutur paling banyak, oleh karena itu tidak ada salahnya bagi Anda untuk mempelajari bahasa daerah yang satu ini. Bahasa bugis memiliki penutur sebanyak 5 juta orang. Jumlah tersebut merupakan sekitar 1% dari total jumlah penutur bahasa Inggris.

Beberapa contoh kosakata bahasa Bugis beserta artinya dalam bahasa Indonesia:

  • Belajar menjadi mangguru
  • Diajar menjadi ipagguru
  • Mengajar menjadi mappaguru
  • Menulis menjadi maroki
  • Membaca menjadi mabbaca
  • Bersungguh–sungguh menjadi mattongeng–tongeng
  • Mendengar menjadi marengkalinga
  • Melihat menjadi makkita
  • Berbicara menjadi mabbicara
  • Penglihatan menjadi pakkita
  • Berfikir menjadi mappikkiri
  • Diam menjadi mammekko
  • Duduk menjadi tudang
  • Membat menjadi makkebbu
  • Berbohong menjadi mabbelle
  • Menghafal menjadi makkafala
  • Menghitung menjadi mabbilang
  • Hidup menjadi tuo
  • Uang menjadi dui
  • Bapak menjadi ambo

Bahasa Indonesia Angka Berubah Menjadi Bahasa Bugis

  • 0 nol: nol
  • 1 satu: seddi
  • 2 dua: duwa
  • 3 tiga: tellu
  • 4 empat: eppa
  • 5 lima: lima
  • 6 enam: enneng
  • 7 tujuh: pitu
  • 8 delapan: aruwa
  • 9 sembilan: asera
  • 10 sepuluh: seppulo
  • 11 sebelas: seppulo seddi
  • 12 dua belas: seppulo duwa
  • 13 tiga belas: seppulo tellu
  • 14 empat belas: seppulo eppa
  • 15 lima belas: seppulo lima lima belas

Bahasa Indonesia Hari atau Waktu Berubah Menjadi Bahasa Bugis

  • Pagi menjadi ele’
  • Sore menjadi areweng
  • Siang hari menjadi esso
  • Tengah malam menjadi tengnga benni
  • Malam hari menjadi wenni
  • Tengah hari menjadi tengasso
  • Siang malam menjadi esso wenni
  • Senin menjadi sining atau asining
  • Selasa menjadi selasa
  • Rabu menjadi arabu
  • Kamis menjadi kamisi
  • Jum’at menjadi juma’
  • Sabtu menjadi sattu
  • Minggu menjadi aha’

Sebutan Keluarga dalam Bahasa Bugis

  • Ibu menjadi anrong atau mama’
  • Ayah menjadi mangge atau tetta
  • Anak menjadi ana’
  • Kakak menjadi daeng
  • Kakek menjadi dato’ atau bapa’ toa
  • Cucu menjadi cucu
  • Cicit menjadi cucu kolantu
  • Mertua menjadi matoang
  • Suami menjadi bura’ne
  • Istri menjadi naine atau turiballaka
  • Keluarga menjadi kalabine
  • Kerabat menjadi bija
  • Sepupu menjadi sampo
  • Paman menjadi unda
  • Bibi menjadi bonda
Photo Credit: Jose Hamra Images Flickr via Compfight cc

Bahasa Indonesia Berubah Menjadi Bugis Lainnya dalam Sehari-hari

  • Saya atau aku menjadi iyya
  • Apa menjadi aga
  • Apa sih menjadi agaje’
  • Apalagi menjadi agasi
  • Jangan menjadi aja’
  • Dia sendiri menjadi alena
  • Leher menjadi allong
  • Anak menjadi ana’
  • Gadis menjadi anaddara
  • Wanita menjadi makkunrai
  • Saudara laki–laki menjadi ana’boroane
  • Makanan menjadi anre
  • Pinggul menjadi ariwi
  • Ikan menjadi bale
  • Babi menjadi bawi
  • Bisu menjadi bebe’
  • Kambing menjadi bembe’
  • Pacar menjadi canring
  • Cermin menjadi camming
  • Gelas minum menjadi canteng atau cante’
  • Pakaian menjadi care–care
  • Perahu menjadi lopi
  • Dahi menjadi linro
  • Makan menjadi manre’
  • Nasi menjadi nanre
  • Masuk menjadi muttama’
  • Manis menjadi maccening
  • Bermain menjadi maccule
  • Marah menjadi manggaru
  • Matahari menjadi mataesso
  • Bersih menjadi mapaccing
  • Kucing menjadi meong
  • Laut menjadi tasi’
  • Tidur menjadi tinro
  • Mulut menjadi timu
  • Bulan menjadi uleng
  • Bunga menjadi uanga
  • Kampung menjadi wanua
  • Nasib menjadi were
  • Baju menjadi waju

Dari semua bahasa tersebut, huruf awal seperti F, V, X, Q dan Z tidak ada di dalam bahasa Bugis.

Segera klik dan Dapatkan Diskon Kursus Bahasa Inggris EF Go Global 2019 terbatas hanya 1 Bulan dan Nikmati Pengalaman Kelas Gratis Percobaan untuk Anak di EF My First Lesson

 

Contoh kalimat dalam bahasa Indonesia “ bapakku menghitung uang”. Maka dalam bahasa Bugisnya menjadi ambokku mabbilang dui.

Dalam bahasa Indonesia saya cemburu melihat kamu, mengimpurukkak mita ki dalam bahasa Bugis.

Mi dan mua dalam bahasa bugis dapat berarti, hanya atau sekedar dalam bahasa Indonesia. Ni bisa memiliki arti telah, E sama dengan lah tapi jarang dipakai dan Tu sama dengan kah atau yah.

Semoga pembahasan tentang kosa kata bahasa Bugis dapat bermanfaat bagi yang ingin belajar bahasa tersebut.

Categories
Bahasa Bugis

5 Langkah Cepat dan Mudah Belajar Bahasa Gorontalo

Indonesia memang kaya dengan beragam budaya dan bahasa. Setiap daerah hampir memiliki bahasa yang berbeda. Kita harus cinta dan mempelajari bahasa daerah selain mempelajari bahasa Inggris. Salah satu bahasa yang menarik untuk di pelajari adalah Bahasa Gorontalo. Bagi Anda yang ingin melancong ke Gorontalo atau bahkan tinggal di Gorontalo tentu harus bisa menguasai Bahasa Gorontalo dengan cepat.

Berikut Cara Cepat belajar bahasa Gorontalo :

1. Pelajari Kata-Kata Dasar

Mau belajar apapun bahasanya, hal yang paling penting adalah dengan mengetahui tentang kata-kata dasar yang sering digunakan. Kata-kata dasar yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari akan sangat membantu bagi Anda untuk bisa mendapatkan proses pembelajaran yang lebih lancar nantinya.

Kata dasar ini juga harus Anda ingat secara terus menerus. Ditambah lagi, Anda juga harus menambahkan beberapa kata yang akan Anda ingat setiap harinya. Paling tidak luangkan waktu untuk mengingat 5 kata setiap hari. Lama kelamaan nanti kosa kata yang dihafal menjadi banyak sehingga bisa lancar dalam berbahasa Gorontalo.

Kata dasar yang harus dihafal misalnya seperti:

Pongaalalo atau alat untuk makan ada : “gelas” dalam bahasa Gorontalo disebut dengan “Halati”, kemudian “titiidu” yang artinya “sendok”, teko yang disebut dengan “poti atau poci” dan lainnya.

2. Berlatih Percakapan Sederhana

Jika sudah mulai terbiasa dengan akta-kata dasar yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari kemudian bisa melanjutkan ke tingkat pembelajaran yang lebih lanjut yaitu belajar untuk melakuakn percakapan sehari-hari. Bukan percakapan yang panjang dan lebar, tetapi belajar terlebih dahulu tentang percakapan untuk menyapa, salam ataupun ungkapan permisi.

Hal yang paling dasar adalah ketika harus belajar menyapa dan juga membalas sapaan dari orang lain. Belajar dari yang tingkat dasar ini akan membuat Anda bisa untuk terus meningkatkan kualitas Anda dalam melakukan percakapan hingga ke tingkat yang mahir nantinya.

Contohnya:

Untuk menanyakan kabar bisa dengan mengucapkan “Hinda waloolo habari?” yang memiliki arti “Bagaimana Kabar?”

Kemudian untuk membalasnya dengan “Alhamdulillah pio-piohu” yang berarti “Alhamdulillah baik-baik”

Photo Credit: Mangiwau Flickr via Compfight cc

3. Berteman dengan Orang Gorontalo

Manfaatkan media sosial untuk bisa berteman dengan orang-orang yang mahir bahasa Gorontalo terutama orang asli Gorontalo. Mereka akan menjadi guru Bahasa Gorontalo terbaik karena bisa lebih tahu tentang bagaimana Bahasa Gorontalo yang baik dan benar.

Bukan hanya sekedar dari bahasa yang dasar, tetapi orang Gorontalo pasti lebih paham tentang bahasa apa yang akan digunakan untuk sehari-hari, kepada teman, orang yang lebih tua dan sebagainya. Sehingga, kemampuan bahasa Gorontalo Anda pun tidak akan terhenti dan tidak hanya begitu-begitu saja.

4. Praktekkan Terus Menerus

Dengan terbiasa mengucapkan dan mendengarkan suatu bahasa akan semakin mudah untuk diserap. Oleh karena itulah, untuk bisa berbahasa Gorontalo dengan baik jangan segan-segan untuk terus mempraktekkannya baik itu hanya dengan bercakap-cakap sendiri ataupun dengan orang lain. semakin banyak diasah, bahasa akan semakin mudah untuk dicerna.

5. Mengikuti Media Lokal Gorontalo

Semakin dekat dengan Bahasa Gorontalo maka semakin mahir dalam berbahasa Gorontalo. Oleh karena itulah, paling tidak Anda harus bisa mengikuti akun ataupun media sosial yang bercakap-cakap dengan menggunakan Bahasa Gorontalo.

Saat ini sudah banyak media sosial terutama Instagram yang menggunakan bahasa daerah. Dengan mengikuti akun ini Anda lebih bisa lebih paham dan tahu apa bahasa yang digunakan sehari-hari dan menambah kosa kata setiap harinya. Berbahasa Gorontalo pun saat ini sudah bukan menjadi hal yang sulit bagi Anda lagi.