Categories
Bahasa Batak

Sekilas Mengenal Bahasa Karo Kebanggaan Nusantara Yang Mulai Ditelan Jaman Pesona Danau Toba

Bahasa karo, bahasa yang khas dan menjadi salah satu bahasa khas di nusantara. Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat yang berada di dataran tinggi karo, Deli Serdang dan beberapa kabupaten di Medan Sumatera Utara. Terkhususnya dituturkan oleh suku karo itu sendiri. Tercatat di tahun 1991, jumlah penuturnya di kisaran 600.000 jiwa. Penuturnya berasal dari daerah yang memang merupakan keturunan suku karo. Namun sejauh ini, jumlah penuturnya tidak mendapatkan kejelasan.

Kemungkinannya akan semakin besar. Kenapa? Karena jumlah penduduk tiap tahunnya bertambah. Tidak terkecuali suku karo yang ada di wilayah dataran tinggi Karo.

Bahasa Dan Aksara Karo

Bicara mengenai bahasa, tentu saja bahasa ini tetap digunakan. Hanya saja, penggunaannya hanya sebatas dimanfaatkan di daerahnya. Karena bahasa utama yang bisa menyatukan orang di seluruh penjuru nusantara adalah bahasa Indonesia.

Bahasa ini tidak bisa dikatakan tenggelam dan punah. Kenyataannya, orang-orang yang mendiami wilayah dataran tinggi karo senantiasa menggunakan bahasa tersebut. Yakni untuk berkomunikasi, bermusyawaroh, bercanda dan lain sebagainya.

Temukan Cerita Dongeng Bahasa Inggris Danau Toba

Sementara untuk penulisannya, inilah yang menjadi masalah. Bahasa ini ditulis dengan aksara karo. Orang mengenalnya pula dengan aksaraharu.

Akasara/surat haru/aru sendiri merupakan aksara turunan brahmi dan india. Bagi masyarakat setempat, penulisan dengan aksara ini agaknya sudah ditinggalkan. Hanya sebagian kecil saja yang masih bisa menuliskan dengan aksara karo.

Tentu saja, orang yang mampu menuliskan aksara ini adalah orang-orang terdahulu. Dan para pemuda kemungkinannya tidak bisa menuliskan dengan aksara tersebut. Kecuali mereka yang benar-benar memiliki ketertarikan dan kepedulian akan nilai historis dari bahasa kebanggaan daerahnya.
Nah, masalah seperti ini sebenarnya tidak dialami oleh daerah karo saja. Beberapa daerah di nusantara yang memiliki aksara sendiri juga sama. Hanya sebagian kecil saja masyarakat yang mampu menulis, serta membacanya.

Apa Yang Menyebabkan Masyarakat Tidak Mampu Menulis Dengan Aksara Haru?

Dahulu suku karo memang suka menuliskan sesuatu dengan aksara tersebut. Bukan hanya orang-orang tua saja, tetapi kaum muda. Khususnya dituliskan pada kulit, sampai bamboo dan lain sebagainya.
Apa yang dituliskan mewakili perasaannya. Entah itu perasaan sedang berduka, suka cita dan lain sebagainya. Kesemuanya akan ditulis dalam aksara tersebut.

Namun saat ini, pengenalan aksara latin dari jaman dahulu sampai sekarang membuat masyarakat di daerah terlena. Aksara latin inilah yang dipelajari, bahkan diajarkan di setiap jenjang pendidikan.
Kalaupun ada pendidikan yang memperkenalkan aksara sebuah daerah, itu hanya sebagai pelengkap dari muatan lokal sebuah pengajaran. Dan fokus dari pelajar tentu saja tidak penuh. Akibatnya, pengajaran akan bahasa sekaligus aksara daerah tidak akan pernah dikuasainya.

Selain ada pengaruh aksara latin, kurangnya minat masyarakat setempat untuk mempelajari aksara daerahnya menjadi biang kegagalan dalam menguasainya. Bahkan ketika Anda menyodorkan satu kalimat bertuliskan aksara haru, kemungkinan besar masyarakat setempat tidak mampu membacanya.
Apakah ini hanya terjadi pada daerah karo saja? Tentu saja tidak. Di beberapa daerah yang punya bahasa dan aksara sendiri juga melakukannya. Nampaknya aksara latin menjadi sangat dominan dan penulisannya dianggap lebih mudah.

Dicontohkan dengan bahasa Indonesia yang dituliskan dengan aksara latin. Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia akan tahu. Bahkan di pelosok negeri, masyarakat bisa membacanya.

Solusi Untuk Mengajarkan Masyarakat Setempat Aksara Karo

Untuk penggunaan bahasa karo, kami rasa bahasa ini tetap akan digunakan untuk percakapan setiap hari. Tentunya penutur aslinya yang bakalan menggunakannya. Kalaupun ada pendatang, merekalah pendatang yang kemungkinannya memutuskan untuk tinggal di kawasan tersebut. Sementara untuk penulisan dengan aksara tersebut, agaknya inilah yang akan menjadi masalah. Semakin sedikitnya masyarakat yang tahu bagaimana menulis dan membaca aksara haru bisa mengakibatkan hilangnya aksara tersebut.

Aksara ini hanya akan tinggal sejarah. Dan aksara ini hanya akan menjadi bahan penelitian dari seorang peneliti modern yang punya niatan baik untuk menjaganya. Parahnya, peneliti ini bukanlah dari orang yang bukan keturunan suku karo.

Lalu, bagaimana solusi untuk melestarikan aksara tersebut? Baik pemerintah dan masyarakat setempat sebaiknya mulai penduli akan identitas tersebut. Kepedulian ini bisa ditumbuhkan dengan menumbuhkan rasa cinta penutur akan bahasa aslinya.

Memang butuh waktu, tapi ini adalah langkah yang cukup bijak. Tujuannya supaya aksara haru ini tidak hilang ditelan oleh jaman. Dan anak cucu bisa memahami karya sastra yang dituliskan dengan aksara haru di kemudian hari.

Untuk mengimbanginya, sejumlah instansi pendidikan harusnya ikut terlibat untuk menjaga bahasa tersebut. Pengajaran di tiap jenjang pendidikan harusnya dilakukan. Ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu penuturnya.

Kemudian yang tak kalah penting, masyarakat setempat butuh sebuah wadah yang mana bisa menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda. Di tempat inilah para pemuda bisa belajar sedikit demi sedikit tentang cara menulis bahasa karo dengan aksara haru.

Terbiasanya para pemuda dalam menulis dengan aksara tersebut, lambat laun aksara ini akan semakin dikenal. Setidaknya, anak cucu bisa menulis dengan aksara tersebut. Dan ini menjadi cara terbaik untuk mencegah punahnya aksara ini di tengah-tengah kemodernan.

Yang perlu dilakukan adalah memulainya saat ini juga. Kenalkan anak-anak dengan aksara tersebut. Kemudian tumbuhkan rasa ingin tahu mereka agar anak merasa bahwa belajar bahasanya sendiri sangatlah baik.
Jika hal ini tidak dilakukan, anak-anak hanya akan fokus untuk belajar menulis dengan bahasa latin. Dalam jangka waktu tertentu, penutur asli yang mulai dewasa akan kehilangan aksaranya.

Intinya, jangan karena bahasa lain sering digunakan membuat bahasa sendiri terbaikan. Tetap jaga bahasa sendiri agar lebih lestari. Setidaknya, ini adalah bentuk menjaga kehormatan bangsa yang dipenuhi dengan banyaknya bahasa. Salah satunya adalah bahasa karo ini.

Categories
Bahasa Batak

40 Daftar Kosa Kata Dasar Bahasa Karo Beserta Artinya

Pengetahuan umum biasanya banyak mengetahui berbagai hal. Salah satunya adalah belajar bahasa daerah, bahasa tersebut merupakan bahasa batak karo. Dalam bahasa ini penggunaan kata tunggalnya memiliki arti sendiri – sendiri.

Tapi jika digabungkan akan menjadi sebuah kalimat yang memiliki arti atau juga makna tertentu. Kata – kata umum dari bahasa batak karo cukup banyak seperti halnya bahasa daerah lain.

Daftar Kosa Kata Bahasa Karo Lengkap dengan Artinya

  • Saya menjadi aku
  • Kamu menjadi kam
  • Dia menjadi ia
  • Anak menjadi anak atau simupus
  • Istri menjadi ndehara
  • Ibu menjadi nande
  • Ayah menjadi bapa
  • Kalian menjadi kena
  • Mereka menjadi kalak atau kalak ena
  • Itu menjadi ena
  • Ini menjadi enda
  • Situ atau sana menjadi ijena
  • Siapa menjadi ise
  • Apa menjadi kai
  • Di mana menjadi ija
  • Kapan menjadi ndingan atau katawiri
  • Bagaimana menjadi uga
  • Semua menjadi kerina
  • Banyak menjadi melala

Bahasa Karo dalam Angka

  • 1 menjadi sada
  • 2 menjadi dua
  • 3 menjadi telu
  • 4 menjadi empat
  • 5 menjadi lima

Binatang, Buah, Tanaman dalam Bahasa Karo

  • Ikan menjadi nurung
  • Anjing menjadi biang
  • Burung menjadi perik
  • Ular menjadi nipe
  • Cacing menjadi gaya
  • Hutan menjadi karangen
  • Buah menjadi buah
  • Biji menjadi buah
  • Daun menjadi bulung
  • Akar menjadi urat
  • Rumput menjadi dukut
  • Bunga menjadi bunga
Photo Credit: Drriss & Marrionn Flickr via Compfight cc

Bahasa Karo Lengkap dengan Artinya dalam Bahasa Indonesia

  • Menjahit menjadi njarumi atau semit
  • Menghitung menjadi itung atau ngitung
  • Bernyanyi menjadi rende
  • Bermain menjadi main – main
  • Mengalir menjadi maler
  • Air menjadi lau
  • Hujan menjadi udan
  • Topi menjadi songok
  • Gigi menjadi ipen
  • Tikar menjadi amak
  • Putih menjadi mentar
  • Pendek menjadi gendek
  • Harum menjadi merim
  • Jelek menjadi mejin
  • Minum menjadi minem
  • Makan menjadi man
  • Malas menjadi kisat
  • Dekat menjadi ndehar
  • Jatuh menjadi ndabuh
  • Bukan menjadi sea
  • Gunung Sinabung menjadi deleng sinabung
  • Jangan bilang – bilang menjadi ula kata kataken
  • Suka menjadi ngena
  • Pulang menjadi mulih
  • Jalan menjadi dalan
  • Halus menjadi melumat
  • Sawah menjadi sabah
  • Rusak menjadi ceda
  • Pegangan menjadi tagangen
  • Abal merupakan tempat garam dari bambu, adam sama dengan serbuk abu yang halus.
  • Abang sejenis dengan pohon kacang polong
  • Abit sama dengan kain panjang
  • Dabo sama dengan Ikan Gabus
  • Bajak sama dengan bagian kayu yang paling keras
  • Ca merupakan huruf terkahir dalam abjad bahasa karo
  • Memetik sayuran di dalam hutan, dalam bahasa karo menjadi caleh
  • Clung merupakan gelas minuman yang terbuat dari bambu
  • Menangkap ikan menjadi mengala dengke
  • Air hangat menjadi hangat las
  • Menghapus dosa menjadi manepusa dosa
  • Bunga itu harum menjadi harum hushus
  • Selamat pagi menjadi salam wari erpagi – pagi
  • Bagaimana kabarnya ? menjadi Uga beritana ?
  • Siapa namamu ? menjadi Isa gelarndu ?
  • Di mana rumah Anda ? menjadi ija rumahndu ?
  • Apa pekerjaan Anda ? menjadi kai pen-dahindu ?
  • Apa kamu mengenal dia ? menjadi tandaindu ise ia ?
  • Di mana kampung halaman Anda ? menjadi Ija kuta kemulihendu ?
  • Apakah Anda sudah makan ? menjadi enggo kam man e ?
  • Sudah, saya sudah makan. Menjadi enggo, aku enggo man ndai.
  • Kapan kalian kembali ? menjadi ndingan kena mulih ?
  • Terima kasih menjadi bujur melala, melala bujur.

Kosa kata, kalimat di atas akan bermanfaat untuk para pembaca yang ingin mendalami pelajaran bahasa batak karo dan dan ingin menghafalnya.

Exit mobile version