Categories
Bahasa Batak

Daftar Rayuan Gombal Paling Populer Dalam Bahasa Karo

Bahasa karo bisa dikatakan sebagai bahasa yang digunakan oleh Suku Karo yang mendiami Dataran Tinggi Karo (Kabupaten Karo), Deli Serdang, Langkat, Medan, Dairi, hingga ke Aceh Tenggara.

Bahasa Karo ini secara historis ditulis dengan menggunakan aksara Karo atau yang lebih sering disebut dengan Surat Aru/Haru, yang sebenarnya merupakan turunan dari aksara Brahmi yang berasal dari India kuno.
Tapi sayangnya kini hanya sebagian kecil orang Karo yang bisa menulis atau memahami aksara Karo tersebut, sebaliknya banyak yang lebih memilih menggunakan aksara latin. Memang seiring perkembangan zaman hal seperti ini tidak bisa dihindari lagi.

Bahasa Karo sendiri masih sangat jarang dipahami oleh orang-orang, dan bahkan oleh orang Karo sendiri. Zaman yang sudah mulai berubah, serta kurang berminatnya anak-anak muda dari suku Karo, disinyalir menjadi faktot terbesar kenapa bahasa Karo kini kurang begitu digunanakan untuk komunikasi sehari-hari.

Mengenal Aksara Karo

Surat Aru (Haru) atau yang disebut juga dengan Tulisen (aksara) Karo ini bisa dikatakan sebagai salah satu aksara yang ada di Nusantara. Dikatakan Tulisen Karo lantaran tumbuh dan berkembang serta digunakan secara meluas di wilayah-wilayah suku Karo dan dipergunakan oleh masyarakat Karo untuk menulis cakap (bahasa) Karo.
Pada dasarnya, media dalam penulisan aksara Karo ini tidak jauh berbeda dengan aksara-aksara kuno lainnya, yang mana semua bisa dijadikan sebagai media tulis, baik bambu, kayu, batu, logam, daun, kertas, dan lain-lain. Tapi di Karo sendiri, media yang paling populer digunakan oleh masyarakat untuk menulis adalah bilah bambu atau kulit kayu.

Fakta semacam ini ditunjukkan dengan adanya kebiasaan dari masyarakat suku Karo zaman dahulu khususnya kaum mudanya yang sering menulis ratapan atau rintihan hidupnya khusunya yang berkaitan dengan urusan asmara pada kulit bambu maupun kayu, atau yang lebih populer dengan sebutan buluh bilang-bilang.
Tidaka hanya itu saja, di wilayah yang banyak ditinggali oleh masyarakat suku Karo juga cukup populer dengan surat kaleng. Dalam bahasa Karo sendiri dikenal dengan istilah musuh berngi (musuh dalam kegelapan/musuh malam) yang isi suratnya umumnya berisi nada tantangan ataupun ancaman.

Secara karakter dan pelafalan, aksara Karo ini sebenarnya ada kemiripan atau kesamaan dengan beberapa aksara non-latin lainnya yang ada di Nusantara, terlebih lagi di Sumatera. Misalnysa saja aksara dari daerah Simalungun, Pakpak, Kerinci, Lampung, Batak (Toba), dan lain-lain.
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, maka setelah itu lebih dikenal dengan aksara Karo, oleh karena fungsi serta penggunaannya sendiri, yakni yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat suku Karo. Disamping ada beberapa kekhasan lainnya.

Indung surat (huruf utama/huruf induk) bahasa Karo terdiri dari 21 surat (font/huruf), yang merupakana pelambangan konsonan. Meskipun dalam hal pelafalan serta pengejaannya bahasa Karo ini selalu diakhiri oleh bunyi “a” yang nota bene merupakan bunyi huruf vokal.

Selanjutnya, vokal serta karakter penjelasan lainnya (diakritik) dirangkum dalam kelompok anak surat (anak huruf) yang secara penempatannya rata-rata ada setelah indung surat.

Kemudian, anak surat dalam aksara Karo sendiri dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu 1) menghilangkan bunyi “a”, 2) Mengubah bunyi “a” menjadi “i, u, e’, é, dan o”, serta 3) menambah bunyi “h” dan “ng”.
Pada dasarnya, aksara Karo ini merupakan kelompok abuguida murini. Hal tersebut tampak jelas dalam pelafalan dan penulisan vokal-vokalnya yang bisa dibilang sangat mutlak, baik untuk vokal “a, i, u, e’, é, dan o”.
Kemudian, jika diperhatikan lebih mendalam lagi, tulisen (aksara) Karo ini juga memiliki ciri khas tersendiri yang begitu tampak pada dua indung suratnya, “nda” dan “mba”, yang mana kedua indung surat tersebut hanya bisa ditemui pada tulisen (aksara) Karo saja, dan merupakan khas logat Karo.

Dialek Bahasa Karo

Setelah mengulas mengenai aksara Karo, kini tibalah saatnya mengenal terkait dengan dialek bahasa Karo itu sendiri. Dialek dalam bahasa Karo pada umumnya dikenal ke dalam 3 buah pembagian, diantaranya adalah:

  1. Cakap Karo Gunung-gunung (Dialek Gunung-gunung). Dialek ini kebanyakan digunakan di derah Kecamatan Juhar. Munte, Kutabuluh, Tiga Binaga, dan Mardinding.
  2. Cakap Orang Julu (Dialek Kabanjahe). Dialek ini kebanyakan digunakan di derah Kecamatan Kabanjahe, Barus Jahe, Tiga Panah, Payung, dan Simpang Empat.
  3. Cakap Kalak Karo Jahe (Dialek Jahe-jahe). Dialek ini kebanyakan digunakan di derah Kecamatan Biru-biru, Pancur Batu, Lau Bekerei, Sibolangit, Namo Rambe (termasuk kabupaten Deli Serdang), serta di beberapa daerah yang ada di Kabupaten Langkat (Hulu) seperti halnya di Selapan, Bahorok, Kuala, dan lain-lain.

Rayuan Gombal Dalam Bahasa Karo

Dalam bahasa daerah manapun, pasti ada yang namanya bahasa khusus untuk memikat lawan jenis, begitupun juga yang ada pada bahasa Karo. Penasaran seperti apa orang suku Karo jika meraya lawan jenisnya?

  1. Ngene ateiku kam, dalam bahasa Indonesia kalimat ini berarti kau yang kucinta.
  2. Kam ngenca si kuarapken, dalam bahasa Indonesia kalimat ini berarti hanya kau yang selalu kuharapkan.
  3. Keleng ateiku kam , dalam bahasa Indonesia kalimat ini berarti aku sayang kepadamu.
  4. Buktiken adi ngenna dengan atendu, dalam bahasa Indonesia kalimat ini berarti buktikan bahwa kau masih cinta.
  5. Tuhan nge lalap si njaga kita, dalam bahasa Indonesia kalimat ini berarti Tuhan yang akan menjaga kita. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Seperti itulah sedikit ulasan mengenai bahasa Karo. Semodern apapun pemikiran dan gaya hidup Anda, akan lebih baik lagi jika tidak pernah melupakan warisan nenek moyang, contoh sederhananya seperti bahasa Karo ini.

Categories
Bahasa Batak

Mengenal Sumpah Serapah Dalam Bahasa Batak Paling Fenomenal

Makian orang Medan dalam bahasa Batak terbilang paling fenomenal dibanding makian orang-orang dari wilayah lain yang umumnya membawa-bawa satu kebun binatang. Sangat berbeda dengan anak Medan, banyak kaum milenila di Medan yang beranggapan jika makian tidak keran lagi jika masih menggunakan nama-nama binatang.
Sedih memang jadi orang Medan, padahal tidak ada niatan sama sekali untuk memaki atau berkata kasar, namun tetap saja banyak yang bilang apa yang keluar dari mulut Suku Batak terasa menyakitkan ditelinga.

Namun percayalah, sebenarnya hanya logat bicara Suku Batak saja yang kedengarannya kasar, namun hatinya dijamin lembut-lembut. Jadi jangan pernah tersinggung jika sedang berbicara dengan orang Batak.

Mengenal Kata-kata Makian Dalam Bahasa Batak

Hampir semua bahasa di wilayah Indonesia memiliki cara makian atau sumpah serapah sendiri-sendiri. Begitupun juga dengan orang Batak. Namun uniknya, kata makian dalam bahasa Batak justru jarang sekali yang memakai nama-nama binatang sekebun binatang.

Namun meskipun demikian, kata-kata makian tersebut masih terasa sangat panas dikuping. Terlebih lagi ditambah karakter suku Batak yang dikenal keras-keras dengan intonasi bicaranya yang seperti sedang membentak-bentak. Sudah pasti kata makian tersebut akan semakin mengena di hati orang yang mendengarnya.
Di bawah ini adalah beberapa kata-kata atau persisnya makian yang sering digunakan oleh masyarakat Medan masa kini, atau bisa dikatakan jenis makian yang paling populer atau paling familier.

Lepet
Jika Anda pernah mendengar teman dari Medan yang mengucapkan kata ini maka sebenarnya dia sedang memaki Anda, bukan kepengan dengan salah satu jenis makanan lepet. Jadi jangan senang dulu. Bisa jadi teman Anda saat itu sedang marah dengan Anda.

Kepala Otak Kau
Salah satu jenis makian dalam bahasa Batak yang sebenarnya tidak membawa nama-nama binatang yang ada di kebun binatang. Tapi jika sudah terkena makian pakai kata ini, rasa-rasanya makjleb seketika.

Lontong
Entah dari mana asal muasal dari kata makian yang satu ini. Kata makian yang menggunakan menu sarapan pagi yang sebenarnya selalu menjadi ciri khas kota Medan itu sendiri. Bisa jadi ini sebenarnya merupakan strategi promosi dengan cara menggunakan kata makian.

Find Traditional Local Folklore about Lake Toba from North Sumatra

Hoi Mancung
Hoi Mancung ini seringnya dipakai oleh orang Medan pada saat mendengar ada seseorang yang sedang berbicara namun isi pembicaraannya mengada-ada alias tidak benar sama sekali.

Mata Kau Lah
Jika diperhatikan, kata makian dalam bahasa Batak yang satu ini jika diucapkan dengan intonasi lembut saja sudah terdengar cukup kasar. Jika tidak percaya, coba kata makian ini Anda ucapkan kepada temanmu yang bukan orang Medan, pasti dirinya akan langsung bengong karena merasa dimaki tapi dia tidak terlalu paham dengan makian tersebut.

Kimbek Lah
Kimbek lah ini pada dasarnya merupakan kata dalam bahasa Batak yang memiliki makna cukup kasar, yaitu pukimak. Tapi lantaran terlalu kasar jadinya dipotong menjadi kimbek. Sedangkan kata lah di belakang ini merupakan kata yang selalu mengikuti apapun ekspresinya.

Ken Lap
Ken Lap ini merupakan pengertin dari kata gombal. Dalam bahasa Jawa, gombal adalah kain lap, namun kata gombal juga digunakan untuk istilah merayau. Jadi jika ada orang yang sedang memberikan kata-kata gombalan, biasanya orang Medan langsung memaki dengan kata Weeee……Ken Lap. Perlu dipahami juga bahwa orang Medan sangat tidak suka dengan gombalan.

Kreak (Belagu)
Orang Medan memang dikenal dengan sifat kerasnya. Namun sebenarnya ini merupakan ciri khas dari Medan itu sendiri. Sebab Medan didominasi oleh Suku Batak dan Melayu, yang mana Suku Batak dikenal memiliki watak yang keras dan bervokal suara besar.

Jadi tidak mengherankan jika sesama orang Medan sering membuli satu sama lain dengan bahasa yang cukup kasar. Dan, biasanya di Medan untuk menyebut orang-orang yang belagu menggunakan kata krek.

Getek (Genit)
Getek di sini bukan berarti alat transportasi untuk menyebrang sungai. Jika di Medan, getek memiliki arti sebutan untuk seseorang yang memiliki tingkah genit. Biasanya disertai dengan colek-colek dengan sapaan yang menggoda.

Congok (Rakus)
Jika menjumpai orang yang banyak makan, dalam bahasa Batak disebut dengan kata congok.

Tokoh (Bohong)
Jika dalam bahasa Indoensia “tokoh” ini memiliki arti seseorang yang penting dikalangan masyarakat, berbeda jika dalam bahasa Batak, tokoh memiliki arti yang sangat jauh berbeda “dibohongi”.

Bengak (Bego)
Jika Anda seringnya mendengar istilah bego untuk memaki seseorang, maka di Medan Anda akan lebih sering mendengar kata bengak. Dan, dalam bahasa Batak bengak ini berarti “bego”.

Memang cukup silit jika dijelaskan melalui rangkaian kata atau jika orang Batak Karo sering bilang La terkataken, pal. Selain itu perlu dipahami juga bahwa orang Medan selalu mengubah kata yang berakhiran vokal ‘ai’ menjadi ‘e’, seperti pantai menjadi pante, sungai menjadi sunge, cabai menjadi cabe, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kemudian, logat orang-orang Medan memang selalu terdengar kasar dan umumnya diakhiri dengan penekanan konsonan ‘k’, sehingga semua kata secara otomatis akan berakhiran konsonan ‘k’, seperti pula menjadi pulak, gigi menjadi gigik, dan lain sebagainya.

Dan, hal terakhir buat Anda yang ingin berkunjung ke Tanah Batak atau memiliki teman dari Suku Batak, sebaiknya jangan terkejut dengan vokal Suku Batak yang ketika berbicara seperti membentak-bentak. Memang seperti itulah karakternya. Dan, akan sangat sulit untuk merubahnya.

Categories
Bahasa Batak

Sekilas Mengenal Bahasa Karo Kebanggaan Nusantara Yang Mulai Ditelan Jaman Pesona Danau Toba

Bahasa karo, bahasa yang khas dan menjadi salah satu bahasa khas di nusantara. Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat yang berada di dataran tinggi karo, Deli Serdang dan beberapa kabupaten di Medan Sumatera Utara. Terkhususnya dituturkan oleh suku karo itu sendiri. Tercatat di tahun 1991, jumlah penuturnya di kisaran 600.000 jiwa. Penuturnya berasal dari daerah yang memang merupakan keturunan suku karo. Namun sejauh ini, jumlah penuturnya tidak mendapatkan kejelasan.

Kemungkinannya akan semakin besar. Kenapa? Karena jumlah penduduk tiap tahunnya bertambah. Tidak terkecuali suku karo yang ada di wilayah dataran tinggi Karo.

Bahasa Dan Aksara Karo

Bicara mengenai bahasa, tentu saja bahasa ini tetap digunakan. Hanya saja, penggunaannya hanya sebatas dimanfaatkan di daerahnya. Karena bahasa utama yang bisa menyatukan orang di seluruh penjuru nusantara adalah bahasa Indonesia.

Bahasa ini tidak bisa dikatakan tenggelam dan punah. Kenyataannya, orang-orang yang mendiami wilayah dataran tinggi karo senantiasa menggunakan bahasa tersebut. Yakni untuk berkomunikasi, bermusyawaroh, bercanda dan lain sebagainya.

Temukan Cerita Dongeng Bahasa Inggris Danau Toba

Sementara untuk penulisannya, inilah yang menjadi masalah. Bahasa ini ditulis dengan aksara karo. Orang mengenalnya pula dengan aksaraharu.

Akasara/surat haru/aru sendiri merupakan aksara turunan brahmi dan india. Bagi masyarakat setempat, penulisan dengan aksara ini agaknya sudah ditinggalkan. Hanya sebagian kecil saja yang masih bisa menuliskan dengan aksara karo.

Tentu saja, orang yang mampu menuliskan aksara ini adalah orang-orang terdahulu. Dan para pemuda kemungkinannya tidak bisa menuliskan dengan aksara tersebut. Kecuali mereka yang benar-benar memiliki ketertarikan dan kepedulian akan nilai historis dari bahasa kebanggaan daerahnya.
Nah, masalah seperti ini sebenarnya tidak dialami oleh daerah karo saja. Beberapa daerah di nusantara yang memiliki aksara sendiri juga sama. Hanya sebagian kecil saja masyarakat yang mampu menulis, serta membacanya.

Apa Yang Menyebabkan Masyarakat Tidak Mampu Menulis Dengan Aksara Haru?

Dahulu suku karo memang suka menuliskan sesuatu dengan aksara tersebut. Bukan hanya orang-orang tua saja, tetapi kaum muda. Khususnya dituliskan pada kulit, sampai bamboo dan lain sebagainya.
Apa yang dituliskan mewakili perasaannya. Entah itu perasaan sedang berduka, suka cita dan lain sebagainya. Kesemuanya akan ditulis dalam aksara tersebut.

Namun saat ini, pengenalan aksara latin dari jaman dahulu sampai sekarang membuat masyarakat di daerah terlena. Aksara latin inilah yang dipelajari, bahkan diajarkan di setiap jenjang pendidikan.
Kalaupun ada pendidikan yang memperkenalkan aksara sebuah daerah, itu hanya sebagai pelengkap dari muatan lokal sebuah pengajaran. Dan fokus dari pelajar tentu saja tidak penuh. Akibatnya, pengajaran akan bahasa sekaligus aksara daerah tidak akan pernah dikuasainya.

Selain ada pengaruh aksara latin, kurangnya minat masyarakat setempat untuk mempelajari aksara daerahnya menjadi biang kegagalan dalam menguasainya. Bahkan ketika Anda menyodorkan satu kalimat bertuliskan aksara haru, kemungkinan besar masyarakat setempat tidak mampu membacanya.
Apakah ini hanya terjadi pada daerah karo saja? Tentu saja tidak. Di beberapa daerah yang punya bahasa dan aksara sendiri juga melakukannya. Nampaknya aksara latin menjadi sangat dominan dan penulisannya dianggap lebih mudah.

Dicontohkan dengan bahasa Indonesia yang dituliskan dengan aksara latin. Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia akan tahu. Bahkan di pelosok negeri, masyarakat bisa membacanya.

Solusi Untuk Mengajarkan Masyarakat Setempat Aksara Karo

Untuk penggunaan bahasa karo, kami rasa bahasa ini tetap akan digunakan untuk percakapan setiap hari. Tentunya penutur aslinya yang bakalan menggunakannya. Kalaupun ada pendatang, merekalah pendatang yang kemungkinannya memutuskan untuk tinggal di kawasan tersebut. Sementara untuk penulisan dengan aksara tersebut, agaknya inilah yang akan menjadi masalah. Semakin sedikitnya masyarakat yang tahu bagaimana menulis dan membaca aksara haru bisa mengakibatkan hilangnya aksara tersebut.

Aksara ini hanya akan tinggal sejarah. Dan aksara ini hanya akan menjadi bahan penelitian dari seorang peneliti modern yang punya niatan baik untuk menjaganya. Parahnya, peneliti ini bukanlah dari orang yang bukan keturunan suku karo.

Lalu, bagaimana solusi untuk melestarikan aksara tersebut? Baik pemerintah dan masyarakat setempat sebaiknya mulai penduli akan identitas tersebut. Kepedulian ini bisa ditumbuhkan dengan menumbuhkan rasa cinta penutur akan bahasa aslinya.

Memang butuh waktu, tapi ini adalah langkah yang cukup bijak. Tujuannya supaya aksara haru ini tidak hilang ditelan oleh jaman. Dan anak cucu bisa memahami karya sastra yang dituliskan dengan aksara haru di kemudian hari.

Untuk mengimbanginya, sejumlah instansi pendidikan harusnya ikut terlibat untuk menjaga bahasa tersebut. Pengajaran di tiap jenjang pendidikan harusnya dilakukan. Ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu penuturnya.

Kemudian yang tak kalah penting, masyarakat setempat butuh sebuah wadah yang mana bisa menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda. Di tempat inilah para pemuda bisa belajar sedikit demi sedikit tentang cara menulis bahasa karo dengan aksara haru.

Terbiasanya para pemuda dalam menulis dengan aksara tersebut, lambat laun aksara ini akan semakin dikenal. Setidaknya, anak cucu bisa menulis dengan aksara tersebut. Dan ini menjadi cara terbaik untuk mencegah punahnya aksara ini di tengah-tengah kemodernan.

Yang perlu dilakukan adalah memulainya saat ini juga. Kenalkan anak-anak dengan aksara tersebut. Kemudian tumbuhkan rasa ingin tahu mereka agar anak merasa bahwa belajar bahasanya sendiri sangatlah baik.
Jika hal ini tidak dilakukan, anak-anak hanya akan fokus untuk belajar menulis dengan bahasa latin. Dalam jangka waktu tertentu, penutur asli yang mulai dewasa akan kehilangan aksaranya.

Intinya, jangan karena bahasa lain sering digunakan membuat bahasa sendiri terbaikan. Tetap jaga bahasa sendiri agar lebih lestari. Setidaknya, ini adalah bentuk menjaga kehormatan bangsa yang dipenuhi dengan banyaknya bahasa. Salah satunya adalah bahasa karo ini.

Categories
Bahasa Batak

Bahasa Batak Kekayaan Nusantara Yang Harusnya Dibanggakan

Bahasa batak adalah salah satu bahasa daerah di nusantara yang sangat kuat dibandingkan dengan bahasa daerah lainnya. Saking kuatnya, Anda pastinya mengenal bahasa ini. Tentunya tanpa mengesampingkan bahasa jawa dan lain sebagainya. Bahasa merupakan sebuah identitas. Keberadaan banyak bahasa di nusantara tentunya memberikan kekhasan, dan tentunya menunjukkan kayanya nusantara. Kenapa begitu? Karena bahasa adalah bagian dari seni komunikasi yang bisa mempersatukan orang-orang.

Di luas sana, banyak orang yang iri melihat masyarakat Indonesia. Alasannya sangat sederhana. Masyarakat Indonesia bisa menguasai minimal dua bahasa. Dan itu asli dari nusantara.
Kemampuan ini tidaklah dimiliki oleh negara lainnya. Makanya, Anda seharusnya berbangga hati dengan bahasa daerah. Jangan malu ketika menggunakannya.

Bahasa Batak Dan Penggunanya

Bahasa batak adalah seni berkomunikasi dengan nada-nada yang unik. Penekanan pada sebagian kata menjadikan nada komunikasi agak keras. Dan orang kadang memandang cara berbahasa orang ini akan menunjukkan karakter dari penggunanya.

Penggunanya yang terlihat agak marah menunjukkan konotasi penggunaan bahasa ini kasar. Padahal, pandangan itu tidak sebenarnya benar. Karena kenyataannya orang-orang batak memiliki kelembutan hati.
Hanya saja, cara pelafalan kata inilah yang memang tegas. Dan bagi daerah lain yang memiliki tutur sapa yang lembut akan memandang jika penggunaan bahasa batak agaknya lebih kasar.

Perlu diingat bahwa bahasa ini memang dari tempat asalnya sudah seperti itu. Masyarakatnya juga menggunakan dengan cara tersebut. Ada kesan penggunaannya yang tegas. Jadi, ini tidak ada kaitannya dengan karakter kasar dari si pengguna bahasa.

Alasan Orang Tidak Menggunakan Bahasa Daerah Untuk Berkomunikasi

Di era modern, seseorang yang mampu berkomunikasi bahasa asing dianggap lebih hebat. Ada kebanggaan tersendiri. Padahal, bahasa daerahnya juga bagus dan paling sering digunakan.
Penggunaannya tidak berlaku di daerahnya saja, tapi bisa digunakan di daerah orang lain. Misalnya kalau merantau. Lalu, apa alasan seseorang jarang menggunakan bahasa daerahnya?

Alasan tidak menggunakan Bahasa Daerah

1. Karena malu

Orang terlanjur memandang sisi negatif dari penggunaan bahasa daerah di perkotaan. Untuk bahasa batak, orang memandang penggunaan serta pengguna bahasa dianggap lebih kasar. Makanya, supaya bisa diterima orang lain, bahasa daerah tidak lagi digunakan untuk berkomunikasi meskipun berhadapan dengan orang batak sendiri.
Orang lebih memilih bahasa Indonesia. Memang benar bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu. Tapi tidak ada salahnya jika menggunakan bahasa daerah untuk menunjukkan bahwa bahasa ini tetap lestari.

Alasan utama seseorang tidak menggunakan bahasa daerahnya tak lain disebabkan oleh rasa malu. Seseorang dipandang udik ataupun kampungan. Padahal, bahasa ini adalah bahasa khas yang meninggikan nama Indonesia di kancah International.

2. Menganggap bahasa lain lebih baik

Satu hal yang agaknya harus dihilangkan adalah memandang bahasa lain sebagai bahasa yang terbaik. Karena bahasa itu sama saja fungsinya. Yakni sebagai alat untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Membawa bahasa daerah ke tempat lain agaknya bisa memperkenalkan keberadaan Anda. Dan ini sebenarnya diapresiasi oleh orang lain. Minimal, orang yang tak berbahasa daerah tersebut akan tertarik untuk mengenalnya.
Dengan mengenal bahasa ini, kebudayaan dan sesuatu yang ada di daerah secara tidak langsung akan terkenal. Alhasil, bahasa ini akan tetap lestari meskipun bahasa asing masuk ke nusantara.

3. Menganggap bahasa daerah hanya untuk masyarakat tertentu saja

Memang benar jika bahasa daerah itu digunakan oleh masyarakat tertentu. Bahasa batak ya digunakan oleh mayoritas suku batak. Begitupun di Jawa, bahasa jawa hanya digunakan oleh orang-orang jawa.
Meskipun begitu, Anda harusnya tahu bahwa mengenal lebih banyak bahasa itu jauh lebih baik. Malahan, orang yang mampu menguasai banyak bahasa adalah orang yang terampil, lebih kaya dibandingkan yang tidak mampu melakukannya.

Kenapa? Bahasa adalah yang membedakan seseorang dengan orang hutan sebagaimana dijelaskan dalam sebuah penelitian. Semakin orang tahu banyak bahasa, maka semakin jauh dari kesamaan dengannya.
Dan keberadaan orang yang tahu banyak bahasa ini dianggap lebih tinggi kepandaiannya. Orang dengan kemampuan 2 bahasa jelas lebih baik dibandingkan yang hanya mampu 1 bahasa. Begitupun seterusnya sehingga masyarakat luar agaknya iri dengan apa yang Anda miliki saat ini.

Cara Menumbuhkan Kecintaan Akan Bahasa Batak

Faktanya, bahasa daerah mulai terpinggirkan oleh bahasa asing. Kok bisa? Karena orang menganggap dirinya lebih hebat/keren ketika bisa menyisipkan bahasa asing di dalam sebuah percakapan. Malahan, ada orang yang full berbahasa asing meskipun bukan didepan orang asing.

Bisa dibayangkan jika ini terus dilakukan, bukan tak mungkin jika generasi berikutnya, balita, TK dan tingkat umur diatasnya akan kehilangan jati dirinya. Yakni bahasa asli yang merupakan bahasa identitas daerahnya.
Supaya tidak terjadi kepunahan, tingkatkan kecintaan bahasa tersebut. Caranya bagaimana?

Cara yang pertama adalah menumbuhkan rasa ingin tahu akan bahasa daerah.

Tidak masalah jika Anda bukan orang batak asli. Kecintaan Anda akan bahasa daerah di Nusantara sudah sangat membantu dalam hal melestarikan kekayaan budaya bangsa.

Yang kedua adalah tingkat keseriusan untuk mempelajarinya.

Jika Anda sudah tertarik, pastikan tidak mempelajarinya setengah-setengah. Anda perlu menggunakannya dalam keseharian. Minimal, cara ini adalah sebagai bagian dari tindakan positif untuk menguasainya.

Yang ketiga adalah biasakan untuk mengajak orang tua untuk berbahasa daerah.

Ini berlaku bagi Anda yang memiliki darah batak. Tentu saja orang tua asli batak akan tahu bahasanya.

Anda bisa mengajak orang tua yang sudah lama pindah ke perkotaan untuk berbicara bahasa asli Anda. Dengan cara demikian, Anda akan menguasainya dengan sangat mudah.
Kesimpulannya, jangan pernah malu dengan bahasa daerah Anda sendiri. Ini adalah identitas, dan merupakan bagian dari kekayaan nusantara yang harusnya Anda banggakan. Jadi, jika Anda bangga dengan Indonesia, banggalah dengan bahasa yang Anda miliki. Salah satunya adalah bahasa batak ini.

Categories
Bahasa Batak

Kumpulan Kosakata Bahasa Batak Toba Asli

Jika kamu bisa mempelajari bahasa Inggris hingga mengikuti tempat les Inggris di Bandung, tentu tidak akan sulit bagi kamu untuk belajar bahasa daerah bukan? Salah satunya adalah bahasa Batak Toba. Bahasa Batak Toba atau Hata Batak Toba merupakan bahasa daerah di Indonesia, tepatnya berasa dari sekitar Danau Toba. Selain itu bahasa ini juga digunakan untuk berkomunikasi di beberapa daerah lain seperti Samosir, Tapanuli Utara, dan Sumatera Utara.

Cara Mempelajari Bahasa Batak Toba Asli

Image Source: tribunnews[dot]com
Bahasa ini juga dikenal dengan sebutan Bahasa Batak Samosir. Bahasa yang asli ditulis dengan aksara batak, mirip seperti aksara jawa. Namun seiring perkembangan jaman, bahasa ini akhirnya ditulis dengan huruf latin.

Penulisan dengan huruf latin ini diharapkan mampu memudahkan orang untuk mempelajarinya. Bukan hanya sebatas penduduk aslinya, namun juga orang lain yang tertarik dengan bahasa tersebut.

Cara mempelajarinya pun tidaklah sulit. Yang diperlukan hanyalah mengenal kosakata itu sendiri dan mau mempraktekkannya secara langsung.

Jika kamu punya bekal Bahasa Indonesia, tentunya sangat mudah untuk belajar dengan orang asli penutur bahasa ini. Kosakata yang pernah dipelajari bisa langsung dipraktekkan dan jika kamu mengucapkan hal yang keliru, penutur aslinya bisa langsung memberikan bantuan.

Dalam mempelajari bahasa ini, memiliki pengetahuan kosakata yang banyak juga akan sangat membantu Kosakata ini sebaiknya kamu pelajari dalam bentuk kalimat. Tujuannya adalah untuk memudahkan kamu dalam berkomunikasi. Sehingga kamu tidak terbata-bata saat berkomunikasi dengan bahasa tersebut.

Meskipun begitu, belajar kosakata sendiri juga baik. Karena tata bahasanya tidaklah sulit, dan hampir mirip dengan Bahasa Indonesia.

Kamu bisa memulai dengan menghafal kosakatanya. Kemudian, kamu bisa membuat sebuah kalimat. Kalimat ini bisa ditulis misalnya untuk mendiskripsikan sebuah tempat. Baru setelah itu, kamu bisa mengucapkannya sebagai bagian dari sebuah percakapan.

Kosakata Batak Toba Asli Dan Artinya

Image Source: merdeka[dot]com
Bekalan kosakata sangatlah penting untuk menguasai bahasa lain. Terutama bahasa yang bukan merupakan bahasa kamu sendiri. Untuk itulah, kamu perlu memperkaya pembendaharaan kata. Nah, untuk itu, kamu bisa menengok kosakata Bahasa Batak Toba berikut ini.

Bahasa Batak TobaArtinya
MangampiniMemaafkan
MangabaraMembawa sesuatu diatas pundak
MangabasMengibaskan, melambai
MangabatiMenghalangi, menghambat
Adong abathuSaya berhalangan
AbatHalangan
MabeabeBertiup kesana kemari
MangabingMemangku
MarabitBerpakaian
AbitMelarang masuk
MangaborMembalas
MangabulKeluyuran
MadangadangMengintip, menghadang
MangadangMengintip, menghadang
Mangadar hatanaBicara terus terang
MaradianBerhenti, istirahat
MadoadoMengembara
Adong di ahuAda padaku
MangaduMenyusul, mengejar
Di aduiJauh di sana
MangaeMerasakan
MangagakMenaksir
MangagalagalMelingkar, membelit
MangagamMemikir, menduga, menyangka
Agan peWalaupun, meskipun
MangagapTertawa terbahak-bahak
AgiaApapun, bahkan
AnggiatMudah-mudahan
MagoMenghilang
Mangago ariariMembuang-buang waktu
AhaApa
Manang ahaApapun?
Si ahaSiapa?
MangahapMengalami
MangahonMembawa, mendatangkan, mengantarkan
MangahutiMengambil
MangajariMengajar
MangajarhonMengajarkan
MarsiajarBelajar
ParsiajaranSesuatu yang bisa dipelajari
MangajukBerbohong
Dia alanaApa sebabnya?
AlaiTetapi
MalalLemas
MangalapMengambil, menjemput
MangalatMengamati
MangalingiMenyindir
AlingSindiran
MangaljukMelompat ke atas
MangallangMemakan
MangalmisMemotong sedikit
MangalopalopiMemohon dengan hormat
MangalusiMenjawab
AlusJawaban
MangalutalutiMengurut, memijat
ManambahonMenambahkan
MangambitMenggendong
AmbolasHujan es
AmbolongTerbuang
AmbungEnteng
MamburMenghilang
MangaminMemaafkan, mendukung, membela
MangamoamoMemperlakukan
Mangido ampunMeminta maaf
MangamudiMengemudikan
MangangatiMemperdaya
AngguSatu pasang
AngusHarum
AngkarTidak selesai
ManganjakMenari, melonjak-lonjak
AnjalTidak beruntung
ManganjuBerlapang hati
MangansuriMengangsur
MangantanMenimbang
MarantuBerbahagia
MangantusiMengerti, memaklumi
MasiantusanSaling mengerti
AntusanDapat dipahami
AoangaoangLangit
MangapasiMerendahkan, menganggap remeh

Itulah kurang lebih kata-kata yang bisa dipelajari. Mulailah mengingat beberapa kata di tiap hari nya, dan jangan lupa juga untuk berlatih dengan membuat sebuah kalimat. JIka kamu terus praktek, dijamin kamu pasti bisa menggunakan Bahasa Batak Toba ini dengan lancar. Selamat mencoba!