Categories
Bahasa Bali

Untuk Melestarikan Bahasa Bali, Pemprov Sampai Harus Turun Tangan

Kenapa yang harus dibahas adalah bahasa Bali? Tentunya ada yang setuju dan tidak setuju dengan pertanyaan yang tersebut. Bahkan ada beberapa yang berpura-pura tidak mengerti makna pertanyaan tersebut.
Pada zaman modern seperti sekarang ini, bahasa Bali bisa diibaratkan sebagai sebuah pohon tua yang setengah daunnya sudah kering berguguran. Meskipun demikian, akarnya masih tetap kokoh guna menopang dahan dan rantingnya.

Penutur bahasa Bali kini sudah mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Kondisi ini terjadi lantaran begitu pesatnya arus globalisasi yang membuat bahasa dan budaya asing bisa dengan mudah masuk ke Bali.

Apalagi pulau Bali bisa dikatakan sebagai tujuan para wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Maka dari itu, pengaruh arus globalisasi ini lebih kencang jika dibandingkan dengan derah lain yang ada di Indonesia.
Sementara itu, di sisi lain pola pikir kebanyakan para orang tua khusunya di Bali juga banyak yang sudah berubah. Yang mana kini banyak yang memaksakan anak-anaknya untuk belajar bahasa asing sejak dini.

Tapi jika dipikir lagi, rasa-rasanya hal semacam itu kurang bijak. Bukan bermaksud melarang belajar bahasa asing sejak dini, tapi alangkah lebih baiknya jika sebelum mempelajari bahasa orang lain, tanamkan terlebih dahulu kepada para generasi muda Bali untuk memahami behasa Ibu (bahasanya sendiri) terlebih dahulu.
Sudah jelas statement semacam ini akan menuai pro dan kontra. Akan tetapi kenapa Anda tidak berpikir secara perlahan terkait dengan pertanyaan di atas, dan kembali berpikir kenapa bahasa Bali harus dilestarikan.

I Nyoman Suka Ardiyasa, salah satu tokoh dan pemerhati bahasa Bali menyebutkan setidaknya ada 5 alasan kenapa bahasa Bali harus tetap dilestarikan, diantaranya adalah bahasa Bali merupakan identitas krama Bali.

Selain itu, bahasa Bali adalah akar budaya Bali. Dan, di sisi lain, bahasa Bali beralkulturasi dengan agam Hindu yang ada di Bali. Bahasa Bali juga bisa dikatakan sebagai simbol tata krama dan sopan santun masyarakat asli Bali. Dan, yang terakhir, bahasa Bali merupakan daya tarik pariwisata Bali.
Meskipun pernyataan di atas terbilang cukup singkat, tapi secara maksa sangat padat dan jelas. Oleh sebab itu, wajar saja jika Pemerintah Provinsi Bali sejak pertangahan tahun 2016 silam sudah genjar melakukan penyuluhan

Bahasa Bali di setiap Desa Dinas di Bali.

Yang terpenting sebenarnya adalah jangan pernah merasa gengsi pada saat menuturkan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai Anda malu dengan bahasa warisan nenek moyang Anda sendiri.

Pemprov Bali Terbitkan Pergub

Apa yang dilakukan oleh Pemprov Bali ini patut untuk diacungi jempol. Gubernur Bali sangat serius dalam upaya mempertahankan serta melestarikan bahasa Bali yang kini mulai kurang diminati, terutama oleh para kaum milenial.
Dalam upaya melestarikan bahasa Bali ini, Pemerintah Provinsi Bali telah melakukan berbagai upaya, diantaranya adalah dengan menerbitkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 terkait dengan Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta terkait dengan Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.
Setiap hari kamis, semua PNS yang ada di Bali diharuskan untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Bali dalam hal pelayanan publik, baik di kantor pemerintah dan swasta, hingga di BUMN dan BUMD. Tujuannya hanya satu, supaya bahasa Bali tidak punah karena terlindas oleh arus globalisasi.

Usai pemberlakuan pergub bahasa Bali tersebut, Pemprov langsung merancang dan melaksanakan bulan bahasa Bali, yakni setiap bulan Februari dalam satu tahun. Bulan Bahasa Bali ini bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk implementasi dari Pergub No. 80 Tahun 2018.

Sebelumnya, ada juga sejumlah implementasi dari Pergub tersebut yang juga sudah dilaksanakan, diantaranya seperti penggunaan Bahasa Bali dan pakaian adat Bali setiap hari kamis, hingga penggunaan aksara Bali pada papan nama seluruh Instansi yang ada di Pulau Dewata Bali.

Bahkan bisa dikatakan hingga saat ini sudah hampir 100% papan nama di Bali, baik pemerintah hingga swasta sudah menggunakan bahasa Bali. Dan, tak ketinggalan juga di Bandara, pelabuhan, terminal, yang merupakan pintu gerbang masuk ke Bali pintu gerbangnya juga sudah menggunakan bahasa Bali.
Beragam kegiatan sebagai langkah implementasi Pergub No. 80 Tahun 2018 ini diharapkan mampu memperkuat pelestarian bahasa daerah Bali yang harus bisa menjadi identitas orang Bali itu sendiri.
Sebagai orang asli Bali, penting kiranya untuk semakin memperkuat jati diri sebagai orang Bali dengan cara menghargai bahasa daerahnya sendiri serta mau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bulan Bahasa Bali

Untuk menyambut bulan bahasa Bali yang jatuh pada bulan Februari, bebagai lembaga pendidikan mulai dari TK sampai perguruan tinggi sudah banyak yang melakukannya. Sebuah kabar yang cukup positif terkait dengan pelestarian bahasa derah Bali.

Hingga saat ini, kegiatan bulan bahasa Bali pun terus dilakukan. Kegiatan tersebut ditandai dengan beberapa kegiatan mulai dari Nyurat (menulis di lontar) Aksara Bali secara masal, lomba, seminar, pemberian penghargaan, dan masih banyak lagi kegiatan yang lainnya.

Dipastikan, selama bulan Bahasa Bali tersebut, seluruh kegiatan akan menggunakan bahasa Bali secara penuh. Selain itu, para awak media yang meliputpun diharuskan untuk menggunakan bahasa Bali.
Para genarasi muda Bali penting kiranya untuk selalu menggunakan bahasa Bali sebagai jati diri warga Bali. Jangan sampai bahasa derah Bali ini terlindas oleh derasnya arus globalisasi.

Categories
Bahasa Bali

Banyak Dipengaruhi Bahasa Jawa, Namun Nyatanya Bahasa Bali Itu Berbeda!

Dilihat dari beberapa kosakatanya, bahasa bali agaknya hampir mirip dengan bahasa jawa. Malahan, beberapa orang mengira jika bahasa ini turunan dari jawa. Padahal, bahasa ini cukup berbeda.

Bali memang menjadi kawasan paling terkenal di mancanegara. Kepopulerannya disebabkan oleh banyaknya pariwisata yang elok. Dan kekhasan budayanya masih sangat kental sehingga banyak orang yang datang berkunjung di tiap harinya.

Di dalam kesehariannya, masyarakatnya tentu saja berkomunikasi dengan bahasa daerahnya. Dalam pelafalannya, bahasa ini agaknya mirip dengan bahasa di Jawa. Lalu, apakah memang benar jika bahasa bali ini berasal dari turunan jawa?

Sekilas Mengenal Bahasa Bali

Mempelajari bahasa ini memang cukup menguntungkan. Betapa tidak, Anda akan diterima dengan baik ketika berada di Bali. Pasalnya, ada kemungkinan besar Anda datang ke kawasan tersebut untuk liburan.
Sebagai lokasi pariwisata unggulan nusantara, Bali memang tidak ada duanya. Jumlah pengunjung dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dan ini menjadi sumber pendapatan negara yang paling besar di sektor pariwisata.
Lalu, apa hubungannya dengan mengenal bahasa daerah tersebut? Sebenarnya, ini merujuk pada keuntungan yang akan Anda peroleh. Memahami bahasanya akan membuat keakraban tercipta dan Anda akan diterima dengan baik di Bali.

Perlu diingat bahwa bahasa ini merupakan salah satu bahasa Austronesia. Bahasa ini merujuk pada bahasa sundik, dan terlebih masuk kategori bahasa bali sasak.
Bahasa ini dituturkan di kawasan Bali, Lombok barat dan bagian timur Jawa. Jumlah penuturnya kurang lebih 40 juta penutur. Artinya, bahasa ini sangatlah banyak penuturnya sehingga sangat masuk akal jika Andapun perlu menguasainya.

Pengaruh Bahasa Jawa Pada Bahasa Bali

Kekerabatan antara bahasa jawa dan bali dianggap paling dekat dalam keluarga bahasa astronesia. Meskipun begitu, ini tidak lantas menjelaskan kalau bahasa ini murni dari turunan jawa.
Kenyataannya, bahasa yang dituturkan di kawasan pulau dewata ini lebih dekat dengan bahasa sasak. Bahasa sasak ini dituturkan di kawasan Sumbawa bagian barat. Dan inilah yang dianggap memiliki kemiripan yang lebih pas.

Memang dalam beberapa kosakatanya, Anda akan menemukan sejumlah kata yang diserap dari bahasa jawa. Ini merupakan bentuk serapan yang mana didapatkan dari sejarah masa lampau. Tepatnya ketika masa ekspansi kerajaan yang dipimpin oleh Gajah Mada.

Penaklukan Bali di tahun 1343 M oleh Gajah Mada secara tidak langsung merubah banyak hal. Tidak terkecuali dengan gaya berbahasanya. Bahasa jawa yang kental masuk dan turut mempengaruhi sejumlah kosakatanya.
Ada banyak kemiripan kata yang digunakan antara orang jawa dan orang bali. Dan kata-kata tersebut memiliki makna yang sama. Jadinya, orang menganggap kalau bahasa tersebut merupakan bagian dari Jawa.
Terlepas dari masuknya pemerintahan yang dipegang oleh kerajaan yang menuturkan bahasa jawa, bahasa bali tetap berbeda. Perbedaan inilah yang menjadikan bahasa daerah tersebut mewakili kakhasan kawasan pulau dewata.

Tingkatan Bahasa Bali

Dalam berbahasa, Anda tentunya tidak bisa langsung menggunakannya sekehendak hati. Terutama jika berbahasa Bali yang kemungkinannya dipengaruhi oleh budaya jawa. Karena bahasa ini juga memiliki tingkatan yang mana menjadi aturan baku ketika berkomunikasi.

Setidaknya, ada 3 tingkatan yang ada di dalam bahasa tersebut. Tingkatan ini ditengarai lantaran terpengaruh oleh budaya jawa masa lampau. Lalu, apa saja tingkatan bahasa yang dituturkan di Bali ini?

Daftar Tingkatan Bahasa dalam Bahasa Bali

Bahasa Alus Singgih

Bahasa Alus singgih merupakan tingkatan bahasa yang lebih halus. Bahasa ini digunakan untuk komunikasi sangat formal. Dan biasanya akan digunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang terhormat.
Anda akan dianggap tidak sopan bila tidak menggunakan bahasa tersebut. Terutama jika Anda tidak melihat posisi dari lawan bicara.
Bahasa alus singgih ini banyak digunakan dalam upacara/pertemuan resmi di tingkat desa. Tingkatan bahasa ini juga dipergunakan ketika akan meminang wanita, bahkan digunakan ketika hendak berbicara dengan pendeta.

Bahasa Madya

Tingkatan yang kedua disebut dengan bahasa madya atau sor. Ini tingkatan bahasa menengah yang masih sangat baik bila dituturkan. Tingkatan bahasa ini juga lazim digunakan untuk berkomunikasi setiap harinya.
Bahasa ini aturannya hanya dituturkan oleh seseorang pada orang tua ataupun gurunya. Biasanya, bahasa ini juga digunakan untuk masyarakat menengah. Jadinya, Anda tidak seharusnya menggunakan bahasa secara sembarangan jika tidak ingin dianggap kurang sopan.
Pada prakteknya, bahasa Madya ini juga sering dipergunakan ketika sedang berkenalan. Di awal perkenalan, Anda cukup menggunakan bahasa ini. Hasilnya, Anda akan diterima oleh orang yang diajak berkenalan.

Bahasa Kepara

Tingkatan terbawah dan cenderung kasar ini disebut dengan bahasa kepara. Bahasa ini lazim digunakan oleh masyarakat pada umumnya. Terutama digunakan untuk bahasa pergaulan.

Penuturnya yang menggunakan bahasa tingkat kepara ini adalah mereka yang ingin menciptakan keakraban di antara sesama. Contohnya adalah sesama teman. Selebihnya, bahasa tingkat ini tidak digunakan.
Anda yang baru saja mempelajarinya, disarankan untuk tidak menggunakan bahasa tingkatan kepara. Dikhawatirkan Anda keliru dalam menggunakannya. Bila Anda menggunakannya pada lawan bicara yang lebih tua, Anda akan dicap sebagai orang yang tidak punya sopan santun.

Melihat 3 tingkatan bahasa ini, seseorang yang menuturkannya akan terlihat posisinya. Maksudnya, status sosialnya di tengah-tengah masyarakat. Dan Anda mau tidak mau harusnya mengikuti aturan yang berlaku. Karena ini merupakan bagian dari budaya yang harusnya tetap dijaga.

Nah, keberadaan dari tingkatan bahasa dan beberapa kosakata mirip jawa ini merupakan pengaruh pada penaklukan kerajaan Jawa masa lampau. Namun begitu, bahasa bali tetaplah bahasa daerah yang berbeda.

Categories
Bahasa Bali

Mengenal Beberapa Kata Kasar Dalam Bahasa Bali

Apapun jenis bahasanya, pasti terdapat kata kasarnya. Meskipun terkadang kata-kata kasar seperti ini lumrah digunakan. Apalagi jika sedang mengobrol dengan teman akrab. Tetapi supaya tidak salah penempatannya kamu harus tahu hal-hal semacam ini. Dan hal ini tidak hanya dalam bahasa daerah loh, saat kamu les bahasa inggris di Bogor ataupun daerah lainnya, pasti kamu akan diajari untuk dapat menggunakan bahasa yang kasar dan halus.

Begitupun juga dengan bahasa Bali. Ada beberapa kata kasar yang di wilayah tertentu wajar sekali diucapkan namun terbilang sangat tabu jika diucapkan di wilayah Bali lainnya. Karenanya, kamu harus tetap berhati-hati. Lebih baik hindari saja kata-kata kasar tersebut.

Dengan sedikit tahu beberapa kata kasar dalam bahasa Bali, kamu tidak akan salah pada saat menggunakannya. Apalagi jika posisi kamu sebagai pendatang. Meskipun sedang berbicara dengan teman akrab sekalipun, sebaiknya jangan menggunakan bahasa Bali seperti ini.

Contoh Beberapa Kata Kasar Dalam Bahasa Bali

Pada intinya, kata-kata kasar ini adalah kata-kata yang kurang patut diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa ya? Ternyata kata-kata tersebut mengandung istilah maupun sebutan ataupun cacian yang ditujukan kepada lawan bicara atau seseorang.

Tetapi meskipun demikian, ada sebagian wilayah di Bali, salah satunya Buleleng, dimana kata-kata ini justru wajib diucapkan. Sampai-sampai ada sebuah istilah “ Sing kasar, sing akrab”.

Maksud dari istlilah tadi adalah jika tidak berbicara kasar dengan teman maka belum dianggap sebagai teman akrab atau teman baik mereka. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini adalah beberapa contoh kata-kata kasar dalam bahasa Bali:

Pirata

Ternyata, ‘pirata’ dalam bahasa Bali dianggap sebagai kata-kata yang paling kasar jika diucapkan kepada seseorang. Dan bahkan penyebutan kata ini sudah dilarang disebutkan oleh para sesepuh masyarakat Bali. Hal ini lantaran memiliki arti yang kurang sopan.

Kira-kira apa ya alasannya? Ternyata, hal ini karena menyebutkan kata ‘pirata’ sama saja dengan menyebutkan leluhur kamu. Menurut kepercayaan masyarakat Bali, jika menyebutkan kata tersebut kamu akan berdosa.

Cicing Cai

Ternyata, pada mulanya kata ‘cicing’ ini tergolong sebagai kata halus dalam bahasa Bali. Kata ini menjadi kasar lantaran kata ‘cicing’ ditujukan untuk menyebut seseorang sebagai ‘cicing’. Apalagi ‘cai’ dalam bahasa Bali artinya adalah Kamu. Sekarang pastinya kamu sudah tahu alasannya kenapa kata ‘cicing cai’ tergolong sebagai kata-kata kasar dalam bahasa Bali.

Nani dan Siga

Jika kamu berkunjung ke kabupaten Buleleng, dijamin akan sering mendengar kata-kata ini. Sebenarnya kata ‘nani dan siga’ ini artinya adalah Kamu. Tetapi dalam bahasa Bali, kedua kata tersebut terbilang memiliki penakanan yang sangat kasar. Sehingga sangat tidak patut untuk diucapkan.

Ndas Keleng

Ndas keleng ini dalam bahasa Bali meskipun tergolong sebagai kara-kata yang kasar, tapi dijamin akan tertawa jika kamu mengartikannya ke dalam bahasa Indonesia. Kata ‘ndas’ dalam bahasa Indonesia memiliki arti kepala. Lalu kata ‘keleng’ dalam bahasa Indonesia memiliki arti alat kemaluan laki-laki. Dan selanjutnya silahkan kamu mengartikannya sendiri apa maksud dari ‘ndas keleng’ ini.

Di atas tadi hanya beberapa contoh dari kata-kata kasar dalam bahasa Bali yang tidak patut atau tidak pantas untuk diucapkan. Sebenarnya masih banyak lagi kata-kata kasar dalam bahasa Bali yang belum bisa diulas di sini.

Maka dari itu, berhati-hati ya. Jangan sampai kamu mengucapkan kata-kata kasar tadi. Apalagi jika kamu adalah seorang pendatang. Sudah pasti sangat tidak pantas untuk mengatakan kata-kata kasar semacam itu.

Categories
Bahasa Bali

Contoh Percakapan Bahasa Bali Sehari-hari Supaya Lancar Berbahasa Bali

Diakui ataupun tidak, belajar bahasa daerah memang terbilang cukup sulit. Tetapi jika tahu triknya, belajar selain lebih mudah juga bisa menyenangkan. Bahkan, jika kamu belajar bahasa inggris dengan mencari kursus bahasa Inggris di Depok atau daerah lainnya akan membuat proses belajar mu semakin menarik karena kamu bisa belajar langsung dengan native atau bertemu dengan teman sebayamu. Tak terkecuali pada saat belajar bahasa Bali.

Salah satu cara paling gampang untuk menguasai bahasa Bali adalah dengan cara memahami terlebih dahulu percakapan sehari-hari. Sebenarnya ada kesamaan pada saat kamu ingin cepat menguasai bahasa Inggris.

Dengan cara ini, secara otomatis kamu bisa langsung mempraktekkannya. Terutama saat kamu sedang berkunjung ke pulau Bali. Dengan bisa langsung mempraktekkannya seperti ini, kamu tidak mudah lupa lantaran sudah tersimpan pada memori otak kamu.

Pada saat mempelajari bahasa Bali, penting untuk dipahami jika bahasa Bali dibagi menjadi dua jenis, ada bahasa Bali halus dan juga bahasa Bali kasar. Dan sudah pasti penggunaannya juga tergantung dengan siapa kamu berbicara.

Misalnya saja ketika kamu ingin berbicara dengan seseorang yang lebih tua, orang yang dihormati, atau seseorang yang baru kenal, maka baiknya kamu menggunakan bahasa Bali yang halus.

Berbeda jika kamu ingin mengobrol dengan teman akrab maupun seumuran, kamu bisa menggunakan bahasa Bali kasar. Sebenarnya secara penggunaan kurang lebih sama seperti bahasa darah pada umumnya.

Cara Bertanya Nama Dan Asal Dengan Menggunakan Bahasa Bali

Image Source: sportourism

Untuk menanyakan nama dan asal dalam bahasa Bali, kamu bisa melihat contoh percakapan yang ada di bawah ini:

A: Sira pesengane? (siapa namamu?)
B: Titiyang Ketut (saya Ketut)
A: Saking napi asal ragane? (dari mana asalmu?)
B: Saking Buleleng (dari Buleleng)

Contoh Percakapan Bali Saat Ingin Berkenalan

Situasi percekapannya adalah seorang laki-laki yang ingin berkenal dengan seorang permpuan Bali. Seperti inilah bentuk percakapannya:

Laki-laki: Dadi kenalan gek? (boleh berkenalan cantik?)
Perempuan: Ngujang ngajakinj kenalan? Kal ngude? (untuk apa mengajak berkenalan segala? Mau apa?)
Laki-laki: Bli Cuma dot nawang gen, sire pesengane gek? (kakak hanya ingin tahu saja, siapa namamu cantik?)
Perempuan: Ni Komang Ariyuni
Laki-laki: Bagus sajan adane (bagus sekali namanya)
Perempuan: Sire pesengan Bli? (siapa nama kakak?)
Laki-laki: Candra Hadi Winata
Laki-laki: Saking napi geg? (dari mana asalnya cantik?)
Perempuan: Saking Denpasar (dari Denpasar)

Contoh Percakapan Bahasa Bali di Pasar

pura ubud

Situasi percakapannya adalah ada seorang pembeli yang datang ke pasar yang mencoba mempraktekkan bahasa Bali yang baru saja dipelajarinya. Seperti inilah bentuk percakapannya:

Pembeli: Kude niki bu? (berapa harganya ini bu?)
Penjual: Tuleng tali (tiga ribu)
Pembeli: Dados kurang bu? (boleh kurang bu?)
Penjual: Dados kurang bedik (boleh kurang sedikit)
Pembeli: Siu bu nggih (seribu ya bu)
Penjual: Nggih dados ampun, kuda kal meli nike? (ya boleh, mau beli berapa?)
Pembeli: Siki manten bu, niki pes-ne bu (satu saja bu, ini uangnya bu).

Contoh Percakapan Dalam Bahasa Bali Untuk Bertanya Kabar

Untuk menanyakan kabar dengan menggunakan bahasa Bali, seperti inilah bentuk percakapannya:

Ketut: Hai Bli, engken kabare? (hai kakak, bagaimana kabarnya?)
Made: Becik-becik gen, dije jani ngoyang? (baik-baik saja, dimana sekarang tinggal?)
Ketut: Di Denpasar, Melali na’e ke jumah. Bli kal kije? (Di Denpasar, ayo main-main ke rumah. Kakak mau kemana?)
Made: Kal je,put mbok di pasar. Besok-besok nah. (mau menjemput kakak di pasar. Besok-besok saja ya)
Ketut: Sukses gen Bli (sukses kak).

Di atas adalah beberapa contoh percapakan sehari-hari dengan menggunakan bahasa Bali. Percakapan-percakapan seperti itu tentu saja akan sangat berguna pada saat kamu berkunjung ke Bali atau bagi kamu yang saat ini baru belajar bahasa Bali.

Categories
Bahasa Bali

Hati-hati Gunakan 3 Kata Bahasa Bali ini!

Meskipun saat berkunjung ke Bali Anda bisa menggunakan bahasa Indonesia, tetapi tidak ada salahnya untuk sedikit belajar bahasa Bali dan Bahasa Bali Translate. Bisa dijamin orang Bali akan sangat tersanjung jika Anda menggunakan bahasa daerahnya pada saat menyapanya dan tidak ada salahnya juga jika Anda ikut serta dalam kursus bahasa inggris online.

Be careful using these 3 words of bali language

Apalagi menguasai bahasa Bali sebenarnya cukup mudah. Sama mudahnya ketika Anda sedang belajar bahasa daerah lain di Indonesia. Dengan syarat Anda harus memilih trik yeng tepat.

7 Tips Belajar Bahasa Bali Dengan Cepat

Segala sesuatu akan lebih mudah dilakukan jika tahu caranya. Dan cara yang dipilih adalah cara yang paling efektif. Begitupun juga ketika Anda ingin belajar bahasa Bali. Banyak tips belajar bahasa Bali yang bisa Anda pilih. Tetapi jika ingin cepat menguasainya, lakukan 7 tips belajar bahasa bali di bawah ini:

1. Perbarui Kosakata Bahasa Bali Setiap Hari

Sudah menjadi hal yang wajar jika ingin menguasai sebuah bahasa, memperbanyak perbendaharaan kosakata menjadi sangat penting untuk dilakukan. Upayakan untuk selalu menambah 3-5 kosakata setiap harinya.

2. Pelajari Kosakata Bahasa Bali Sehari-hari

Lebih memperkaya kosakata terutama kosakata yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari orang Bali akan sangat membantu untuk mempercepat penguasaan bahasa Bali.
Mislanya saja untuk menanyakan kabar dalam bahasa Bali seringnya menggunakan ‘kenken kabare’. Lalu untuk menjawab sapaan tersebut Anda bisa menggunakan ‘becik-becik.

3. Praktekkan Pengucapan Bahasa Bali

Jangan lupa dan jangan malu untuk selalu memprektekkan setiap kosakata yang sudah Anda pelajari. Apalagi dalam hal ini pengucapan menjadi hal yang terbilang cukup penting.
Kenapa demikian? Sebab dalam komunikasi terkadang bisa menjadi salah arti ketika pada saat mengucapkannya dilakukan dengan penuturan yang salah. Oleh sebab itu, Anda harus benar-benar memperhatikan hal-hal semacam ini.

4. Praktekkan Bahasa Daerah Bali dengan Teman

Supaya setiap pengucapan ataupun bahasa dapat diketahui dengan benar maka setidaknya Anda butuh orang lain agar dapat menilai tingkat pemahaman penguasaan bahasa Bali Anda. Ajaklah teman untuk mempraktekkan bahasa Bali yang sudah Anda kuasai.

Cara prakteknya pun bisa bermacam-macam. Contohnya saja bisa dengan cara mengobrol dengan menggunakan bahasa Bali, menebak kosakata maupun dengan cara lain yang sekiranya bisa membuat Anda semakin semangat untuk mempelajari lebih jauh lagi bahasa Bali ini.

5. Gunakan untuk Kehidupan Sehari-hari

Yang tidak kalah penting lainnya agar supaya Anda cepat menguasai bahasa Bali adalah menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab mahir berbahasa bisa dimulai dengan cara terbiasa menggunakannya.
Maka dari itu, usahakan untuk selalu menggunakan bahasa Bali baik ketika Anda berada di rumah, saat bersama teman, maupun dalam kesempatan yang lainnya. Ingat jangan pernah malu untuk melakukannya.

6. Pelajari Cara Membaca Bahasa Bali yang Benar

Hal penting lainnya saat belajar bahasa Bali adalah dapat membaca dengan cara yang benar. Sebab di dalam bahasa Bali memiliki ciri khas yang begitu kental dengan akhiran /e/.
Contohnya saja setiap kata yang berakhiran huruf /a/, huruf /a/ tersebut dirubah menjadi /e/, seperti ketika Anda membaca ‘tante’. Lalu ketika kata tersebut berakhiran huruf /e/, maka cara bacanya seperti ketika Anda menyebutkan kata ‘bule’.

7. Manfaatkan Kecanggihan Teknologi

Supaya bisa lebih terbiasa lagi dengan bahasa Bali, Anda bisa memanfatakan keberagaman teknologi yang sudah ada saat ini. Contohnya saja seperti mendengarkan berita lokal Bali, melihat TV Bali, dan lain sebagainya.
Membiasakan untuk selalu mendengarkan cerita dengan bahasa Bali bisa membuat Anda lebih mudah lagi menyerap bahasa serta akan lebih paham lagi bagaimana cara pengucapan bahasa Bali yang baik dan benar.
Seperti itulah beberapa tips belajar bahasa Bali dengan cepat. Dan jangan lupa juga untuk tidak bosan saat belajar bahasa Bali. Sebab terkadang rasa bosan justru akan membuat Anda sulit menguasai bahasa Bali.

Hindari Menggunakan Bahasa Kasar Bali

Setiap masyarakat memiliki budaya masing-masing. Dan budaya tersebut tidak lepas dari bahasa mereka sendiri. Begitu dengan Bali. Ada hal yang harus Anda ketahui mengenai budaya serta bahasa Bali yang dianggap kurang sopan bagi masyarakat lokal.

1. Pirata

Pirata itu leluhur orang Bali. Dan jika Anda menyebut kata tersebut, Anda dianggap telah berdosa.

2. Cicing Cai

Sebenarnya, cicing itu artinya anjing, hewan piaraan yang sangat disukai oleh sebagian besar orang Bali. Akan tetapi, jika ditambah dengan Cai, itu artinya Anda anjing atau lebih tepatnya Anda bertingkah laku seperti anjing.

3. Nani

Bagi Anda yang sudah sering ke Bali dan berkumpul dengan masyarakat lokal, Anda mungkin pernah dengar kata Nani. Ini sebenarnya artinya Anda. Hanya sajai, bagi orang Bali, ini sangat kasar.

Dan masing banyak lagi kata kasar yang sebaiknya Anda tidak ucapkan saat di Pulau Dewata Bali. Sekarang, Anda hanya perlu fokus belajar kosakata dan kalimat yang paling sering digunakan ketika Anda berlibur di Bali. Saat di sana, praktikkan dengan orang lokal.