Sekilas Mengenal Bahasa Karo Kebanggaan Nusantara Yang Mulai Ditelan Jaman Pesona Danau Toba

Bahasa Batak Aug 05, 2019 No Comments

Bahasa karo, bahasa yang khas dan menjadi salah satu bahasa khas di nusantara. Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat yang berada di dataran tinggi karo, Deli Serdang dan beberapa kabupaten di Medan Sumatera Utara. Terkhususnya dituturkan oleh suku karo itu sendiri. Tercatat di tahun 1991, jumlah penuturnya di kisaran 600.000 jiwa. Penuturnya berasal dari daerah yang memang merupakan keturunan suku karo. Namun sejauh ini, jumlah penuturnya tidak mendapatkan kejelasan.

Kemungkinannya akan semakin besar. Kenapa? Karena jumlah penduduk tiap tahunnya bertambah. Tidak terkecuali suku karo yang ada di wilayah dataran tinggi Karo.

Gratis Free Placement Test di EF, lebih detail klik link ini PROMO GRATISBelajar Inggris di EF English First semakin menyenangkan! 🇬🇧 🇮🇩 🇸🇪

Bahasa Dan Aksara Karo

Bicara mengenai bahasa, tentu saja bahasa ini tetap digunakan. Hanya saja, penggunaannya hanya sebatas dimanfaatkan di daerahnya. Karena bahasa utama yang bisa menyatukan orang di seluruh penjuru nusantara adalah bahasa Indonesia.

Bahasa ini tidak bisa dikatakan tenggelam dan punah. Kenyataannya, orang-orang yang mendiami wilayah dataran tinggi karo senantiasa menggunakan bahasa tersebut. Yakni untuk berkomunikasi, bermusyawaroh, bercanda dan lain sebagainya.

danau toba

Temukan Cerita Dongeng Bahasa Inggris Danau Toba

Sementara untuk penulisannya, inilah yang menjadi masalah. Bahasa ini ditulis dengan aksara karo. Orang mengenalnya pula dengan aksaraharu.

Akasara/surat haru/aru sendiri merupakan aksara turunan brahmi dan india. Bagi masyarakat setempat, penulisan dengan aksara ini agaknya sudah ditinggalkan. Hanya sebagian kecil saja yang masih bisa menuliskan dengan aksara karo.

Tentu saja, orang yang mampu menuliskan aksara ini adalah orang-orang terdahulu. Dan para pemuda kemungkinannya tidak bisa menuliskan dengan aksara tersebut. Kecuali mereka yang benar-benar memiliki ketertarikan dan kepedulian akan nilai historis dari bahasa kebanggaan daerahnya.
Nah, masalah seperti ini sebenarnya tidak dialami oleh daerah karo saja. Beberapa daerah di nusantara yang memiliki aksara sendiri juga sama. Hanya sebagian kecil saja masyarakat yang mampu menulis, serta membacanya.

Apa Yang Menyebabkan Masyarakat Tidak Mampu Menulis Dengan Aksara Haru?

Dahulu suku karo memang suka menuliskan sesuatu dengan aksara tersebut. Bukan hanya orang-orang tua saja, tetapi kaum muda. Khususnya dituliskan pada kulit, sampai bamboo dan lain sebagainya.
Apa yang dituliskan mewakili perasaannya. Entah itu perasaan sedang berduka, suka cita dan lain sebagainya. Kesemuanya akan ditulis dalam aksara tersebut.

Namun saat ini, pengenalan aksara latin dari jaman dahulu sampai sekarang membuat masyarakat di daerah terlena. Aksara latin inilah yang dipelajari, bahkan diajarkan di setiap jenjang pendidikan.
Kalaupun ada pendidikan yang memperkenalkan aksara sebuah daerah, itu hanya sebagai pelengkap dari muatan lokal sebuah pengajaran. Dan fokus dari pelajar tentu saja tidak penuh. Akibatnya, pengajaran akan bahasa sekaligus aksara daerah tidak akan pernah dikuasainya.

Selain ada pengaruh aksara latin, kurangnya minat masyarakat setempat untuk mempelajari aksara daerahnya menjadi biang kegagalan dalam menguasainya. Bahkan ketika Anda menyodorkan satu kalimat bertuliskan aksara haru, kemungkinan besar masyarakat setempat tidak mampu membacanya.
Apakah ini hanya terjadi pada daerah karo saja? Tentu saja tidak. Di beberapa daerah yang punya bahasa dan aksara sendiri juga melakukannya. Nampaknya aksara latin menjadi sangat dominan dan penulisannya dianggap lebih mudah.

Dicontohkan dengan bahasa Indonesia yang dituliskan dengan aksara latin. Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia akan tahu. Bahkan di pelosok negeri, masyarakat bisa membacanya.

Solusi Untuk Mengajarkan Masyarakat Setempat Aksara Karo

Untuk penggunaan bahasa karo, kami rasa bahasa ini tetap akan digunakan untuk percakapan setiap hari. Tentunya penutur aslinya yang bakalan menggunakannya. Kalaupun ada pendatang, merekalah pendatang yang kemungkinannya memutuskan untuk tinggal di kawasan tersebut. Sementara untuk penulisan dengan aksara tersebut, agaknya inilah yang akan menjadi masalah. Semakin sedikitnya masyarakat yang tahu bagaimana menulis dan membaca aksara haru bisa mengakibatkan hilangnya aksara tersebut.

Aksara ini hanya akan tinggal sejarah. Dan aksara ini hanya akan menjadi bahan penelitian dari seorang peneliti modern yang punya niatan baik untuk menjaganya. Parahnya, peneliti ini bukanlah dari orang yang bukan keturunan suku karo.

Lalu, bagaimana solusi untuk melestarikan aksara tersebut? Baik pemerintah dan masyarakat setempat sebaiknya mulai penduli akan identitas tersebut. Kepedulian ini bisa ditumbuhkan dengan menumbuhkan rasa cinta penutur akan bahasa aslinya.

Memang butuh waktu, tapi ini adalah langkah yang cukup bijak. Tujuannya supaya aksara haru ini tidak hilang ditelan oleh jaman. Dan anak cucu bisa memahami karya sastra yang dituliskan dengan aksara haru di kemudian hari.

Untuk mengimbanginya, sejumlah instansi pendidikan harusnya ikut terlibat untuk menjaga bahasa tersebut. Pengajaran di tiap jenjang pendidikan harusnya dilakukan. Ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu penuturnya.

Kemudian yang tak kalah penting, masyarakat setempat butuh sebuah wadah yang mana bisa menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda. Di tempat inilah para pemuda bisa belajar sedikit demi sedikit tentang cara menulis bahasa karo dengan aksara haru.

Terbiasanya para pemuda dalam menulis dengan aksara tersebut, lambat laun aksara ini akan semakin dikenal. Setidaknya, anak cucu bisa menulis dengan aksara tersebut. Dan ini menjadi cara terbaik untuk mencegah punahnya aksara ini di tengah-tengah kemodernan.

Yang perlu dilakukan adalah memulainya saat ini juga. Kenalkan anak-anak dengan aksara tersebut. Kemudian tumbuhkan rasa ingin tahu mereka agar anak merasa bahwa belajar bahasanya sendiri sangatlah baik.
Jika hal ini tidak dilakukan, anak-anak hanya akan fokus untuk belajar menulis dengan bahasa latin. Dalam jangka waktu tertentu, penutur asli yang mulai dewasa akan kehilangan aksaranya.

Intinya, jangan karena bahasa lain sering digunakan membuat bahasa sendiri terbaikan. Tetap jaga bahasa sendiri agar lebih lestari. Setidaknya, ini adalah bentuk menjaga kehormatan bangsa yang dipenuhi dengan banyaknya bahasa. Salah satunya adalah bahasa karo ini.

Fani Ingglis

~To be a long life learner and with ink to the cemetery~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *