Categories
Bahasa Batak

Mengenal Sumpah Serapah Dalam Bahasa Batak Paling Fenomenal

Makian orang Medan dalam bahasa Batak terbilang paling fenomenal dibanding makian orang-orang dari wilayah lain yang umumnya membawa-bawa satu kebun binatang. Sangat berbeda dengan anak Medan, banyak kaum milenila di Medan yang beranggapan jika makian tidak keran lagi jika masih menggunakan nama-nama binatang.
Sedih memang jadi orang Medan, padahal tidak ada niatan sama sekali untuk memaki atau berkata kasar, namun tetap saja banyak yang bilang apa yang keluar dari mulut Suku Batak terasa menyakitkan ditelinga.

Namun percayalah, sebenarnya hanya logat bicara Suku Batak saja yang kedengarannya kasar, namun hatinya dijamin lembut-lembut. Jadi jangan pernah tersinggung jika sedang berbicara dengan orang Batak.

Mengenal Kata-kata Makian Dalam Bahasa Batak

Hampir semua bahasa di wilayah Indonesia memiliki cara makian atau sumpah serapah sendiri-sendiri. Begitupun juga dengan orang Batak. Namun uniknya, kata makian dalam bahasa Batak justru jarang sekali yang memakai nama-nama binatang sekebun binatang.

Namun meskipun demikian, kata-kata makian tersebut masih terasa sangat panas dikuping. Terlebih lagi ditambah karakter suku Batak yang dikenal keras-keras dengan intonasi bicaranya yang seperti sedang membentak-bentak. Sudah pasti kata makian tersebut akan semakin mengena di hati orang yang mendengarnya.
Di bawah ini adalah beberapa kata-kata atau persisnya makian yang sering digunakan oleh masyarakat Medan masa kini, atau bisa dikatakan jenis makian yang paling populer atau paling familier.

Lepet
Jika Anda pernah mendengar teman dari Medan yang mengucapkan kata ini maka sebenarnya dia sedang memaki Anda, bukan kepengan dengan salah satu jenis makanan lepet. Jadi jangan senang dulu. Bisa jadi teman Anda saat itu sedang marah dengan Anda.

Kepala Otak Kau
Salah satu jenis makian dalam bahasa Batak yang sebenarnya tidak membawa nama-nama binatang yang ada di kebun binatang. Tapi jika sudah terkena makian pakai kata ini, rasa-rasanya makjleb seketika.

Lontong
Entah dari mana asal muasal dari kata makian yang satu ini. Kata makian yang menggunakan menu sarapan pagi yang sebenarnya selalu menjadi ciri khas kota Medan itu sendiri. Bisa jadi ini sebenarnya merupakan strategi promosi dengan cara menggunakan kata makian.

Find Traditional Local Folklore about Lake Toba from North Sumatra

Hoi Mancung
Hoi Mancung ini seringnya dipakai oleh orang Medan pada saat mendengar ada seseorang yang sedang berbicara namun isi pembicaraannya mengada-ada alias tidak benar sama sekali.

Mata Kau Lah
Jika diperhatikan, kata makian dalam bahasa Batak yang satu ini jika diucapkan dengan intonasi lembut saja sudah terdengar cukup kasar. Jika tidak percaya, coba kata makian ini Anda ucapkan kepada temanmu yang bukan orang Medan, pasti dirinya akan langsung bengong karena merasa dimaki tapi dia tidak terlalu paham dengan makian tersebut.

Kimbek Lah
Kimbek lah ini pada dasarnya merupakan kata dalam bahasa Batak yang memiliki makna cukup kasar, yaitu pukimak. Tapi lantaran terlalu kasar jadinya dipotong menjadi kimbek. Sedangkan kata lah di belakang ini merupakan kata yang selalu mengikuti apapun ekspresinya.

Ken Lap
Ken Lap ini merupakan pengertin dari kata gombal. Dalam bahasa Jawa, gombal adalah kain lap, namun kata gombal juga digunakan untuk istilah merayau. Jadi jika ada orang yang sedang memberikan kata-kata gombalan, biasanya orang Medan langsung memaki dengan kata Weeee……Ken Lap. Perlu dipahami juga bahwa orang Medan sangat tidak suka dengan gombalan.

Kreak (Belagu)
Orang Medan memang dikenal dengan sifat kerasnya. Namun sebenarnya ini merupakan ciri khas dari Medan itu sendiri. Sebab Medan didominasi oleh Suku Batak dan Melayu, yang mana Suku Batak dikenal memiliki watak yang keras dan bervokal suara besar.

Jadi tidak mengherankan jika sesama orang Medan sering membuli satu sama lain dengan bahasa yang cukup kasar. Dan, biasanya di Medan untuk menyebut orang-orang yang belagu menggunakan kata krek.

Getek (Genit)
Getek di sini bukan berarti alat transportasi untuk menyebrang sungai. Jika di Medan, getek memiliki arti sebutan untuk seseorang yang memiliki tingkah genit. Biasanya disertai dengan colek-colek dengan sapaan yang menggoda.

Congok (Rakus)
Jika menjumpai orang yang banyak makan, dalam bahasa Batak disebut dengan kata congok.

Tokoh (Bohong)
Jika dalam bahasa Indoensia “tokoh” ini memiliki arti seseorang yang penting dikalangan masyarakat, berbeda jika dalam bahasa Batak, tokoh memiliki arti yang sangat jauh berbeda “dibohongi”.

Bengak (Bego)
Jika Anda seringnya mendengar istilah bego untuk memaki seseorang, maka di Medan Anda akan lebih sering mendengar kata bengak. Dan, dalam bahasa Batak bengak ini berarti “bego”.

Memang cukup silit jika dijelaskan melalui rangkaian kata atau jika orang Batak Karo sering bilang La terkataken, pal. Selain itu perlu dipahami juga bahwa orang Medan selalu mengubah kata yang berakhiran vokal ‘ai’ menjadi ‘e’, seperti pantai menjadi pante, sungai menjadi sunge, cabai menjadi cabe, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kemudian, logat orang-orang Medan memang selalu terdengar kasar dan umumnya diakhiri dengan penekanan konsonan ‘k’, sehingga semua kata secara otomatis akan berakhiran konsonan ‘k’, seperti pula menjadi pulak, gigi menjadi gigik, dan lain sebagainya.

Dan, hal terakhir buat Anda yang ingin berkunjung ke Tanah Batak atau memiliki teman dari Suku Batak, sebaiknya jangan terkejut dengan vokal Suku Batak yang ketika berbicara seperti membentak-bentak. Memang seperti itulah karakternya. Dan, akan sangat sulit untuk merubahnya.

Categories
Bahasa Bugis

Nasib Bahasa Bugis Di Tangan Kaum Milenial

Bahasa bugis adalah salah satu bahasa yang digunakan oleh etnik Bugis di Sulawesi Selatan, dan masuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Berbicara mengenai bahasa daerah, tidak hanya dialami oleh bahasa Bugis saja, namum hampir semua bahas daerah yang ada di seluruh Indonesia mengalami nasib yang cukup tragis dikalangan kaum milenial.

Bahasa bugis sendiri terdiri dari beberapa dialek. Seperti halnya dialek Bone (yang berbeda antara Bone selatan dan Utara), dialek Wajo (juga berbeda antatara Wajo bagian Utara, Selatan, Timur, dan Barat), dialek Pinrang yang ada kemiripan dengan dialek Sidrap, dialek Soppeng, dialek Sinjai, dialek Barru, dan sebagainya.

Selain dialek yang berbeda, sebenarnya terdapat juga beberapa kosakata yang berbeda, misalnya saja dialek Sidrap dan Pinrang saat menyebut kata Loka untuk pisang. Sementara itu, dialek Bugis yang lain menyebut Otti atau Utti. Namun yang paling berbeda adalah Kabupaten Sinjai, setiap bahasa Bugis yang ada huruf “W” diganti dengan huruf “H”.

Tulisan Bugis Tradisional

Tulisan Bugis tradisional tidak memiliki tanda konsonan. Oleh sebab itu bisa dikatakan cukup sulit pada saat dibaca jika tidak melihat kalimat secara keseluruhan. Jika membaca satu kata saja, potensi salah baca cukup besar. Hal ini disebabkan kata tersebut bisa dibaca dengan berbagai bacaan.

Ini bisa dikatakan sebagai kelemahan terbesar dari bahasa Bugis tradisonal. Namun di sisi lain juga memiliki kelebihan tersendiri. Oleh sebab itu, sampai saat ini masih tetap saja ada segolongan masyarakat terutama golongan lama yang masih juga mempertahankan tulisan tradisional semacam ini.
Namun yang patut disayangkan adalah banyak remaja Bugis yang kurang berminat untuk belajar bahasa warisan nenek moyangnya ini. Justru mereka lebih semangat pada saat belajar bahasa negara lain, semisal bahasa Inggris.

Modernisasi Bahasa Bugis

Dewasa ini, arus globalisasi memiliki pengaruh yang cukup besar. Dunia modern yang setiap detik selalu memberikan efek serta pengaruh terhadap kehidupan masa kini, terlebih lagi bagi para remaja. Globalisasi ini sejatinya sudah berhasil mengubah pola hidup para remaja sekarang, mulai dari mode hidup, pakaian, minat, bahasa, dan lain sebagainya.

Berbicara terkait dengan bahasa, fakta yang ada saat ini kebanyakan dari para kaum milenial lebih banyak yang fasih melafalkan bahasa asing ketimbang bahasa daerahnya masing-masing.

Contoh sederhananya apa yang saat ini dialami oleh bahasa Bugis. Remaja Bugis saat ini bisa dikatakan lebih mengusai bahasa asing semisal Inggris, Mandarin, Korea, ketimbang bahasa Bugis itu sendiri.
Banyak para remaja yang beranggapan jika interaksi sehari-hari dalam bahasa Bugis itu sama dengan Kamseupay, atau yang lebih dikenal dengan “kurang gaul”, kampungan, ketinggalan zaman, dan tidak modern.

Padahal semestinya budaya daerah sendiri sangatlah perlu untuk ditingkatkan dan terus dilestarikan supaya ciri khas dan karakter dari daerah tersebut tetap dominan. Bukan justru lebih mengembangkan budaya asing di tanah kelahirannya sendiri.

Perkembangan Bahasa Bugis

Dalam perkembangannya, saat ini bisa dikatakan sudah terjadi ketidakseimbangan antara bahasa Bugis dan bahasa asing yang kini mulai merambat dalam wilayah Bugis. Bagaimana tidak? Bisa dikatakan hampir 80% setiap harinya para remaja Bugis memilih berinteraksi dengan menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan tidak sedikit juga yang menggunakan bahasa Inggris.

Memang kondisi seperti ini sebenarnya tidak bisa disalahkan. Apalagi bahasa Indonesia ini memiliki peran yang cukup besar dalam hal pergaulan yang lebih luas seperti pergaulan lingkup Indonesia. Selain itu, bahasa Inggris juga merupakan bahasa Internasional yang digunakan untuk komunikasi lingkup Internasional.

Tapi tidak berarti juga bahasa Bugis yang merupakan bahasa tradisional warisan budaya suku Bugis ini harus tenggelam begitu saja hanya dikarenakan bahasa asing yang merambat di wilayah Bugis.

Fakta lain yang memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara perkembangan bahasa Bugis dan bahasa asing adalah cukup banyak remaja Bugis yang tidak tahu arti dari bahasa derahnya tersebut.

Fakta selanjutnya yang memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara bahasa Bugis dengan bahasa asing dan bisa dikatakan fakta yang cukup miris adalah adanya rasa gengsi dan malu para remaja Bugis untuk menggunakan bahasa daerahnya dalam berkomuniasi.

Kerap kali ada anak-anak yang berkomuniaski dengan menggunakan bahasa Bugis ini justru malah ditertawakan dan langsung di-judge anak tersebut pastilah berasal dari derah pedalaman, buktinya bahasa yang digunakan belum modern.

Hal seperti inilah yang nantinya bisa melekat dalam diri setiap individu dan akan terus berkembang sampai dirinya menuju masa remaja dan memilih berkomunikasi dengan bahasa yang dianggapnya lebih modern (bahasa Indonesia atau bahasa Inggris).

Dan dengan demikian, lagi-lagi seorang anak-anak yang awalnya mulai ada keinginan untuk menggunakan bahasa daerahnya saat berkomuniaski, kini mulai hilang lagi lantaran adanya rasa gengsi tersebut.

Sesuai dengan kata pepatah “Jika ada asap pasti ada api”. Demikian juga dengan hal di atas tadi. Tidak mungkin bahasa Bugis yang kurang diminati oleh para kamu milenial terjadi tanpa adanya sebab.

Dan, faktor terbesar yang menyebabkan hal seperti itu bisa terjadi karena ada pengaruh yang cukup signifikan dari modernisasi, yang semakin hari semakin menuntut untuk menggunakan bahasa Internasional saat berkomunikasi.
Memang benar, modernisasi menuntut untuk mengarah ke hal yang berbau Internasional serta sesuai dengan perkembangan teknologi dan komunikasi, Tapi kenapa juga harus mengesampingkan bahasa Bugis yang sudah menjadi kebudayaan turun-temurun dari nenek moyang Anda sendiri.

Categories
Bahasa Batak

Sekilas Mengenal Bahasa Karo Kebanggaan Nusantara Yang Mulai Ditelan Jaman Pesona Danau Toba

Bahasa karo, bahasa yang khas dan menjadi salah satu bahasa khas di nusantara. Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat yang berada di dataran tinggi karo, Deli Serdang dan beberapa kabupaten di Medan Sumatera Utara. Terkhususnya dituturkan oleh suku karo itu sendiri. Tercatat di tahun 1991, jumlah penuturnya di kisaran 600.000 jiwa. Penuturnya berasal dari daerah yang memang merupakan keturunan suku karo. Namun sejauh ini, jumlah penuturnya tidak mendapatkan kejelasan.

Kemungkinannya akan semakin besar. Kenapa? Karena jumlah penduduk tiap tahunnya bertambah. Tidak terkecuali suku karo yang ada di wilayah dataran tinggi Karo.

Bahasa Dan Aksara Karo

Bicara mengenai bahasa, tentu saja bahasa ini tetap digunakan. Hanya saja, penggunaannya hanya sebatas dimanfaatkan di daerahnya. Karena bahasa utama yang bisa menyatukan orang di seluruh penjuru nusantara adalah bahasa Indonesia.

Bahasa ini tidak bisa dikatakan tenggelam dan punah. Kenyataannya, orang-orang yang mendiami wilayah dataran tinggi karo senantiasa menggunakan bahasa tersebut. Yakni untuk berkomunikasi, bermusyawaroh, bercanda dan lain sebagainya.

Temukan Cerita Dongeng Bahasa Inggris Danau Toba

Sementara untuk penulisannya, inilah yang menjadi masalah. Bahasa ini ditulis dengan aksara karo. Orang mengenalnya pula dengan aksaraharu.

Akasara/surat haru/aru sendiri merupakan aksara turunan brahmi dan india. Bagi masyarakat setempat, penulisan dengan aksara ini agaknya sudah ditinggalkan. Hanya sebagian kecil saja yang masih bisa menuliskan dengan aksara karo.

Tentu saja, orang yang mampu menuliskan aksara ini adalah orang-orang terdahulu. Dan para pemuda kemungkinannya tidak bisa menuliskan dengan aksara tersebut. Kecuali mereka yang benar-benar memiliki ketertarikan dan kepedulian akan nilai historis dari bahasa kebanggaan daerahnya.
Nah, masalah seperti ini sebenarnya tidak dialami oleh daerah karo saja. Beberapa daerah di nusantara yang memiliki aksara sendiri juga sama. Hanya sebagian kecil saja masyarakat yang mampu menulis, serta membacanya.

Apa Yang Menyebabkan Masyarakat Tidak Mampu Menulis Dengan Aksara Haru?

Dahulu suku karo memang suka menuliskan sesuatu dengan aksara tersebut. Bukan hanya orang-orang tua saja, tetapi kaum muda. Khususnya dituliskan pada kulit, sampai bamboo dan lain sebagainya.
Apa yang dituliskan mewakili perasaannya. Entah itu perasaan sedang berduka, suka cita dan lain sebagainya. Kesemuanya akan ditulis dalam aksara tersebut.

Namun saat ini, pengenalan aksara latin dari jaman dahulu sampai sekarang membuat masyarakat di daerah terlena. Aksara latin inilah yang dipelajari, bahkan diajarkan di setiap jenjang pendidikan.
Kalaupun ada pendidikan yang memperkenalkan aksara sebuah daerah, itu hanya sebagai pelengkap dari muatan lokal sebuah pengajaran. Dan fokus dari pelajar tentu saja tidak penuh. Akibatnya, pengajaran akan bahasa sekaligus aksara daerah tidak akan pernah dikuasainya.

Selain ada pengaruh aksara latin, kurangnya minat masyarakat setempat untuk mempelajari aksara daerahnya menjadi biang kegagalan dalam menguasainya. Bahkan ketika Anda menyodorkan satu kalimat bertuliskan aksara haru, kemungkinan besar masyarakat setempat tidak mampu membacanya.
Apakah ini hanya terjadi pada daerah karo saja? Tentu saja tidak. Di beberapa daerah yang punya bahasa dan aksara sendiri juga melakukannya. Nampaknya aksara latin menjadi sangat dominan dan penulisannya dianggap lebih mudah.

Dicontohkan dengan bahasa Indonesia yang dituliskan dengan aksara latin. Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia akan tahu. Bahkan di pelosok negeri, masyarakat bisa membacanya.

Solusi Untuk Mengajarkan Masyarakat Setempat Aksara Karo

Untuk penggunaan bahasa karo, kami rasa bahasa ini tetap akan digunakan untuk percakapan setiap hari. Tentunya penutur aslinya yang bakalan menggunakannya. Kalaupun ada pendatang, merekalah pendatang yang kemungkinannya memutuskan untuk tinggal di kawasan tersebut. Sementara untuk penulisan dengan aksara tersebut, agaknya inilah yang akan menjadi masalah. Semakin sedikitnya masyarakat yang tahu bagaimana menulis dan membaca aksara haru bisa mengakibatkan hilangnya aksara tersebut.

Aksara ini hanya akan tinggal sejarah. Dan aksara ini hanya akan menjadi bahan penelitian dari seorang peneliti modern yang punya niatan baik untuk menjaganya. Parahnya, peneliti ini bukanlah dari orang yang bukan keturunan suku karo.

Lalu, bagaimana solusi untuk melestarikan aksara tersebut? Baik pemerintah dan masyarakat setempat sebaiknya mulai penduli akan identitas tersebut. Kepedulian ini bisa ditumbuhkan dengan menumbuhkan rasa cinta penutur akan bahasa aslinya.

Memang butuh waktu, tapi ini adalah langkah yang cukup bijak. Tujuannya supaya aksara haru ini tidak hilang ditelan oleh jaman. Dan anak cucu bisa memahami karya sastra yang dituliskan dengan aksara haru di kemudian hari.

Untuk mengimbanginya, sejumlah instansi pendidikan harusnya ikut terlibat untuk menjaga bahasa tersebut. Pengajaran di tiap jenjang pendidikan harusnya dilakukan. Ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu penuturnya.

Kemudian yang tak kalah penting, masyarakat setempat butuh sebuah wadah yang mana bisa menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda. Di tempat inilah para pemuda bisa belajar sedikit demi sedikit tentang cara menulis bahasa karo dengan aksara haru.

Terbiasanya para pemuda dalam menulis dengan aksara tersebut, lambat laun aksara ini akan semakin dikenal. Setidaknya, anak cucu bisa menulis dengan aksara tersebut. Dan ini menjadi cara terbaik untuk mencegah punahnya aksara ini di tengah-tengah kemodernan.

Yang perlu dilakukan adalah memulainya saat ini juga. Kenalkan anak-anak dengan aksara tersebut. Kemudian tumbuhkan rasa ingin tahu mereka agar anak merasa bahwa belajar bahasanya sendiri sangatlah baik.
Jika hal ini tidak dilakukan, anak-anak hanya akan fokus untuk belajar menulis dengan bahasa latin. Dalam jangka waktu tertentu, penutur asli yang mulai dewasa akan kehilangan aksaranya.

Intinya, jangan karena bahasa lain sering digunakan membuat bahasa sendiri terbaikan. Tetap jaga bahasa sendiri agar lebih lestari. Setidaknya, ini adalah bentuk menjaga kehormatan bangsa yang dipenuhi dengan banyaknya bahasa. Salah satunya adalah bahasa karo ini.

Categories
Bahasa Jawa

Bahasa Jawa Bahasa Daerah Dengan Perkembangan Paling Pesat di Nusantara! Berkuda di Gunung Bromo

Perkembangan bahasa Jawa sangatlah baik dui masa lampau. Menguasai bahasa ini bisa memberikan keuntungan. Karena bahasa ini memiliki banyak penutur di tanah air. Meskipun tergolong sebagai bahasa daerah, nyatanya bahasa ini lebih sering digunakan. Bukan hanya di tempat asalnya saja, tapi di berbagai pelosok negeri. Menariknya lagi, bahasa ini juga mulai dipelajari oleh masyarakat asing.

Mempelajarinya juga tidaklah sulit. Seseorang akan dengan mudah untuk memperoleh beberapa sumber yang bisa digunakan untuk mempelajari bahasa ini. Makanya, orang lain yang matang dengan bahasa lain akan dengan mudah menguasai bahasa ini.

Sekilas Mengenal Bahasa Jawa

Bahasa jawa adalah salah satu bahasa daerah yang dituturkan di pulau Jawa. Terhitung, penuturnya ada di Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sementara untuk di Jawa Barat, bahasa ini hanya sebagian kecil yang menuturkannya.
Kenapa bisa begitu? Karena Jawa Barat ditinggali oleh berbagai etnis. Diantara yang menempatinya adalah etnis Sunda. Tentu saja, bahasa yang paling sering diengar adalah bahasa tersebut.

Yang tak kalah penting, bahasa pemersatu bahasa Indonesia akan lebih sering didengar. Secara, di kawasan ini merupakan pusat pemerintahan Indonesia.

Wisata Kuda di Bromo. Foto Dokumentasi : TheDimsum.IDDimsum Halal

Walaupun begitu, sejumlah masyarakat yang tinggal di Jawa Barat juga ada yang bertutur dengan bahasa Jawa. Bahasa ini digunakan untuk berkomunikasi di tiap harinya. Terlebih etnis Jawa yang telah atau baru saja datang ke kawasan tersebut.

Perlu diingat bahwa jumlah penduduk dari tanah Jawa sangatlah besar. Sebagian besar masyarakatnya meninggalkan kampung halamannya untuk bekerja di luar kota. Bahkan sampai pergi ke luar jawa ataupun luar negeri. Banyaknya masyarakat jawa yang pergi, lantas orang-orang dengan kekerabatan yang sama kadang membentuk sebuah komunitas. Komunitas inilah yang membuat bahasa ini sering dituturkan. Akibatnya, bahasa ini mulai menyebar luas.

Khusus di bagian luar jawa seperti Sumatera, Sulawesi, Irian Jaya dan lain sebagainya juga ditempati oleh masyarakat jawa. Terutama ketika ada kebijakan pemerintah untuk mengirim sejumlah masyarakat jawa ke kaawasan tersebut.

Program yang dimaksud adalah program transmigrasi. Dari sinilah orang-orang jawa yang dikirim membuat komunitas jawa. Dari komunitas inilah, bahasa yang digunakan jelas bahasa asalnya. Dan semakin lama, bahasa ini terus dikenal luas oleh anak cucu mereka.
Menariknya lagi, komunitas ini tidak hanya ada di luar jawa saja. Melainkan tersebar luas di mancanegara. Mulai dari Malaysia, Perancis, bahkan Belanda dengan Suriname yang dikenal dengan penduduknya yang berasal dari suku jawa asli.

Tata Bahasa Bahasa Jawa

Bicara mengenai tata bahasanya, bahasa jawa ini merupakan bahasa yang mengedapankan sisi sopan dan tidak. Ada tingkatan dalam penggunaan bahasa tersebut. Diantaranya adalah tingkatan bahasa ngoko, madya dan krama.

1. Tingkatan Bahasa Ngoko Jawa

Tingkatan bahasa yang satu ini bisa dibilang sebagai tingkatan paling bawah. Seseorang yang harusnya menggunakan bahasa ini adalah mereka yang memiliki status sosial tinggi pada seseorang dengan strata berada di bawahnya.

Contohnya adalah orang tua yang berbicara dengan anaknya. Bahasa ngoko ini sangatlah lazim digunakan. Sementara anak-anak seharusnya tidak berbicara dengan bahasa ini bila berkomunikasi dengan orang tua.
Kenapa? Karena cara berbicara ini dianggap tidak sopan. Artinya, tidak ada kesan menghormati lawan bicaranya.
Biasanya, tingkatan bahasa ini juga digunakan oleh orang-orang untuk berkomunikasi dalam dunia pergaulan. Terutama meraka yang sudah menjalin pertemanan biasa. Artinya, ini adalah bahasa lazim untuk bahasa pergaulan dengan sesam teman.

2. Tingkatan Bahasa Jawa Madya

Tingkatan bahasa yang kedua ini disebut dengan madya. Ini merupakan tingkatan bahasa yang memadukan antara bahasa jawa kasar dan bahasa jawa alus/krama. Penggunaannya juga lebih sering dibandingkan dengan bahasa ngoko.

Penggunaannya akan lebih sering, dan ini dianggap sebagai bahasa yang lebih baik ketimbang ngoko. Karena ada sifat unggah-ungguh atau saling menghormati pada orang yang diajak bicara.
Bahasa ini bisa digunakan oleh orang yang baru berkenalan, bisa juga orang yang sudah sangat kental persahabatan atau persaudaraannya. Makanya, cara yang terbaik untuk berbicara bahasa ini adalah dengan memanfaatkan tingkatan bahasa yang kedua.

3. Tingkatan Bahasa Jawa Krama

Untuk yang ketiga adalah bahasa krama. Bahasa ini tingkatannya paling tinggi. Biasanya digunakan oleh orang yang lebih muda pada orang yang lebih tua maupun orang yang dihormati.
Penggunaannya jauh lebih sopan dan formal. Seseorang akan sangat pantas menggunakan bahasa ini bila berbicara dengan kyai, orang yang dituakan dan orang yang memiliki pengaruh di daerah tersebut.
Namun bila digunakan untuk berbicara keseharian dengan teman, nampaknya tingkatan bahasa ini tidak selalu digunakan. Karena tingkatan bahasa ini kurang pas untuk dunia pergaulan meskipun sangatlah bagus.

Tantangan Yang Dihadapi Pemerintah Seputar Bahasa Jawa

Tidak diragukan lagi jika bahasa jawa merupakan bahasa paling kuat di masa lalu. Pengaruhnya masih bisa dirasakan sampai saat ini. Karena memang kerajaaan masa lampau menanamkan bahasa ini pada setiap masyarakat.

Seiring dengan perkembangan jaman, bahasa jawa yang semula menjadi bahasa komunikasi semakin lama semakin menurun penggunaannya. Terlebih ketika masa pemerintahan republik Indonesia. Khususnya di era orde baru.

Sampai saat ini, bahasa ini juga mulai terpinggirkan. Pengajaran bahasa tersebut di sebuah instansi pendidikan tidak lagi digalakkan. Padahal bahasa ini merupakan bahasa yang sangat kuat akan sejarahnya.

Terdapat banyak karya sastra dan keilmuan yang ditulis dengan bahasa jawa ini. Namun karena pengaruh bahasa lain dan adanya kebijakan untuk menggunakan bahasa lainnya, maka bahasa ini agaknya mengalami penurunan.
Ketika bahasa ini mulai tidak diajarkan di sebuah instansi pendidikan, dikhawatirkan banyak anak bangsa yang tidak mengenal sejarah bumi nusantara masa lampau. Ini sudah terlihat dengan tidak banyak yang mampu membaca karangan yang dituliskan dengan aksara jawa. Jadi, jika tidak ingin kehilangan jati dirinya, ada baiknya bahasa jawa kembali dipelajari dan diajarkan dengan tekun di dunia pendidikan.

Categories
Bahasa Betawi

Dua Suku Yang Mempengaruhi Aksen Dari Bahasa Betawi

Bahasa betawi adalah bahasa asli yang dituturkan oleh penduduk asli Jakarta. Bahasa ini memiliki aksen yang kedengarannya menarik untuk didengar. Dan aksen ini kenyataannya dipengaruhi oleh dua suku besar yang ada di nusantara. Dua suku ini memang mulanya mendiami Jakarta tempo dulu. Namun harus dipahami bahwa tidak hanya dua suku itu saja yang bertempat tinggal di Jakarta. Melainkan banyak suku yang rata-rata pernah tinggal di kawasan ibukota.

Sejauh ini, masyarakat betawi agaknya terpinggirkan di tempat asalnya. Ini tak lain disebabkan oleh pembangunan besar-besaran yang terjadi di ibukota. Pembangunan ini memaksa masyarakat yang mendiaminya harus rela pergi demi menghormati kebijakan pemerintah.

Sekilas Mengenal Masyarakat Dan Bahasa Betawi

Masyarakat betawi bisa dibilang sebagai masyarakat asli yang mendiami ibukota Jakarta. Suku ini dianggap sebagai suku paling muda di tanah air. Menurut sejarah, suku ini diketahui baru muncul pada tahun 1673.
Tentunya, ini sangat berbeda jauh bila dibandingkan dengan suku-suku yang ada di bumi nusantara. Karena memang suku betawi ini terbentuk dari perpaduan suku-suku yang ada di tanah air.

Foto Dokomentasi : Bunderan HI – Dimsum Jakarta

Beberapa pakar menyebutkan kalau suku ini terbentuk dari percampuran suku di tanah air. Melalui perkawinan antara suku yang dulu mendiami rame-rame di Jakarta, akhirnya muncullah masyarakat baru yang kini dikenal dengan suku betawi.

Diantara suku-suku yang pernah mendiami ibukota Jakarta adalah Melayu, Jawa, Sunda, Arab, Makassar, Ambon, Bugis, serta Tinghoa. Sama-sama mendiami kawasan tersebut, akhirnya muncul perkawinan di antara suku tersebut. Makanya, orang betawi secara historis memiliki darah dari sejumlah suku di nusantara.
Mengenai penamawan betawi sendiri, nama ini ditengarai dari logat si penutur manakala menyebut Batavia tempo dulu. Batavia sendiri adalah nama Jakarta di masa penjajahan.

Mengenai bahasanya sendiri, bahasa betawi merupakan anak bahasa Melayu. Bahasa ini juga dipengaruhi oleh keberadaan dari suku itu sendiri. Artinya, ada unsur-unsur yang melekat di bahasa tersebut. Diantaranya adalah unsur Sunda, Jawa, Arab dan lain sebagainya.

Pada masa lampau, bahasa ini hanya digunakan oleh masyarakat menengah kebawah. Komunitas yang sering menggunakan bahasa ini di masa lampau adalah komunitas pedagang dan budak.
Namun seiring perkembangannya, kini bahasa ini telah digunakan oleh banyak orang. Apalagi bahasa dan budayanya mulai dihidupkan oleh sejumlah orang. Yang paling kentara adalah Benyamin Sueb yang getol dalam memperkenalkannya.

Ciri Khas Dari Pelafalan Kata Dalam Bahasa Betawi

Jakarta memang tidak lagi milik dari suku betawi saja. Di tengah kemodernan, suku ini malah terpinggirkan. Suku ini lebih memilih untuk mengasingkan diri di pinggiran Jakarta.

Meskipun begitu, suku ini masih menunjukkan eksistensinya. Bahkan, bahasa yang khas dan budayanya masih bisa Anda lihat. Pengenalan ini tak luput dari masyarakat betawi yang tetap menjaga kelestariannya.
Mengenai aksennya sendiri, bahasa betawi tentu saja memiliki keunikan tersendiri. Ada kekhasan sendiri yang tentunya membedakan dengan bahasa daerah lainnya. Salah satunya adalah pelafalan yang kadang memiliki kesan membentak.

Kemudian yang tak kalah penting adalah pelafalan bunyi akhir yang hampir sebagian besar selalu berubah menjadi bunyi e. Contohnya adalah kemana akan menjadi kemane.
Menariknya, siapapun bisa dengan mudah untuk mempelajari bahasa ini. Bahkan, Anda tidak akan kerepotan untuk menguasainya. Karena hampir sebagian besar bahasanya diserap dari bahasa Indonesia. Dan pelafalannya tinggal merubah bagian belakangnya menjadi e.

Dua Suku Yang Berpengaruh Pada Aksen Bahasa Betawi

Suku betawi ditengarai muncul dari perpaduan sejumlah suku di tanah air. Perpaduan beberapa suku ini lantas membentuk sebuah komunikasi yang saling disepakati sebagai bahan pemersatu. Dan bahasa betawi adalah buahnya.

Dari sekian banyak suku yang ada, hanya ada dua suku besar yang ditengarai mempengaruhi aksen dari bahasa itu sendiri. Suku yang dimaksud adalah suku Melayu dan Makasar.
Suku melayu sendiri kala itu mendiami daerah Kebayoran. Dan pengaruh yang diberikan pada bahasa ini adalah pada pelafalan bunyi sebuah kata. Pada hampir setiap kata, akhiran kata akan berbunyi e.

Bunyi e pada setiap kata ini jelas menjadi ciri khas dari bahasa Melayu sendiri. Dan ini menjadi tanda kalau suku melayu menjadi salah satu suku terbesar yang dulunya mendiami Jakarta.
Sementara suku Makasar kala itu lebih banyak mendiami daerah peisir Jakarta. Keberadaannya juga mempengaruhi gaya berbahasanya. Diantaranya adalah logat yang lucu serta cara bicara yang lebih cepat dan kesannya menggertak.

Walaupun begitu, kawasan pesisir ini masih sama dalam pelafalan kata. Ujung dari kata yang diucapkan masih berakhiran e. Hanya saja, ada penambahan kesan dari gertakan dan gaya berbicara cepat.
Sejauh ini, gaya berbahasa yang digunakan mulai menyebar ke seluruh penjuru Jakarta. Tentu saja, orang yang menuturkan adalah mereka yang merupakan masyarakat asli Jakarta tempo dulu.

Sedangkan untuk suku-suku lain tidak banyak mempengaruhi gaya bahasanya. Hanya beberapa kata serapan yang dimasukkan ke dalam bahasa komunikasinya. Contohnya adalah kata yang diserap dari bahasa arab.
Terlepas dari hal itu, kedua suku inilah yang lebih banyak memberikan pengaruh besar terhadap kemunculan bahasa tersebut. Kini, bahasa ini mulai sering terdengar di telinga masyarakat Indonesia.

Eksistensinya ini tak lain disebabkan oleh kepedulian dari masyarakat asli Jakarta itu sendiri. Para penggiatnya bahkan menunjukkan budaya yang dimiliki warga setempat. Dan ini menjadi salah satu cara agar bahasa betawi dan suku betawi tidak hilang ditelan oleh kemodernan ibukota.