Categories
Bahasa Jawa

10 Aplikasi Handphone Android ini Bikin Kamu Jago Bahasa Jawa Yuk Belajar Bahasa Daerah Lokal

Di era digital seperti sekarang ini dengan maraknya aplikasi Android dan semisalnya, banyak sekali media pembelajaran yang dirancang untuk semakin memudahkan saat ingin belajar sesuatu. Termasuk diantaranya adalah belajar bahasa Jawa. Selain itu, belajar juga akan semakin menyenangkan. Kenapa? Sebab belajar tidak ada bedanya dengan bermain. Metode pembelajaran seperti ini tentu saja sangat cocok jika diaplikasikan untuk anak usia dini. Sebab kecenderungan bermainnya lebih besar dari pada belajar dengan serius. Tapi tidak menutup kemungkinan sangat cocok juga jika diaplikasikan ke orang dewasa.

Kenapa? Sebab meskipun secara usia sudah dewasa, jika disuruh belajar dengan serius tanpa ada selingan hiburan juga kebanyakan tidak akan bertahan lama. Berbeda jika belajar dikonsep dengan cara yang berbeda seperti ini.

Contohnya saja belajar bahasa Jawa dengan menggunakan aplikasi perangkat mobile berbasis Android ini. Sebuah metode baru yang dijamin akan lebih mudah dan menyenangkan saat belajar bahasa Jawa. Sebab kebanyakan aplikasi tersebut berbasis game.

Kamus Lan Tahun Jawa

Game yang satu ini berisi kamus bahasa Jawa Indonesia dan cara membaca tahun Jawa. Pada game tersebut juga terdapat simulasi dan soal tes. Nantinya pada akhir tes akan diketahui nilai yang berhasil Anda peroleh.
Media Pembelajaran Bahasa Jawa untuk SD

Media ini memang sengaja dibuat untuk membuat siswa SD (Sekolah Dasar) lebih mudah saat belajar bahasa Jawa. Dalam media ini terdapat 4 konten yang bisa Anda nikmati, seperti:

1. Unggah-ungguh Basa

Di dalam konten bernama unggah-ungguh basa ini berisi pacelathon basa ngoko dan basa kramanya, sehingga akan lebih memudahkan pada siswa memahami bagaimana cara menggunakan basa krama yang benar sehingga bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, di dalamnya juga terdapat kamus unggah-ungguh bahasa Jawa.

2. Aksara Jawa

Dengan adanya konten seperti ini, siswa bisa lebih mudah belajar aksara Jawa serta bagaimana cara membaca dan menulisnya.

3. Wayang

Konten ketiga ini berisikan materi mayang Punokawan dan Pandhawa Lima disertai dengan gambar dan penjelasannya.

4. Lagu Dolanan

Untuk konten yang terakhir ini berisikan hiburan, dimana para siswa bisa mendengarkan beberapa lagu dolanan dari Jawa Tengah.

Aksar Jawa

Aplikasi yang diberi nama Aksara Jawa ini bisa digunakan untuk semua kalangan, baik anak-anak, ramaja, hingga orang dewasa. Selain itu, aplikasi belajar bahasa Jawa yang satu ini juga dilengkapi dengan berbagai macam materi serta avaluasi-evaluasi yang terbilang cukup lengkap.

Pendekar Aksara Jawa

Aplikasi belajar Bahasa Jawa berikutnya dibuat dalam bentuk game edukasi. Sebuah aplikasi pembelajaran aksara Jawa yang memiliki fitur tutorial, game, dan petunjuk. Untuk tutorial, digunakan mempelajari apa saja aksara jawa yang ada. Kemdian untuk game, digunakan untuk hiburan sekaligus tantangan menghafal aksara-aksara Jawa. Dan, petunjuk digunakan untuk melihat seperti apa tata cara bermain dalam fitur geme yang satu ini.

Haname Belajar Akasara Jawa

Aplikasi ini berisikan seorang tokoh bernama Haname yang akan membantu Anda belajar bahasa Jawa hingga pintar. Selain itu, di dalam aplikasi ini terdapat beragam fitur menarik yang akan membuat belajar bahasa Jawa menjadi semakin mudah dan tidak membosankan.

Translator Jawa

Sebuah aplikasi layanan terjemahan online Bahasa Indonesia ke Bahasa Jawa dan sebaliknya yang menggunakan unggah-ungguh bahasa Jawa. Untuk bahasa yang didukung adalah bahasa Jawa, Ngoko, Krama, dan Krama Inggil.
Kemudian terkait dengan fitur apa saja yang dimiliki oleh aplikasi Translator Jawa ini adalah sebagai berikut:
1. Terjemahan dari Indonesia ke Ngoko dan sebaliknya
2. Terjemahan dari Indonesia ke Krama dan sebaliknya
3. Terjemahan dari Indonesia ke Krama Inggil dan sebaliknya
4. Pencarian kata atau kamus
5. Dan tombol salin hasil terjemahan.

Game Suraja (Susunan Aksara Jawa)

Aplikasi belajar bahasa Jawa berbentuk game selanjutnya bernama Game Suraja. Game ini diperuntukkan untuk siswa SD. Game ini berisikan cara mengimplementasikan cara penyusunan aksara Jawa. Selain itu juga terdapat fasilitas yang disediakan dalam media ini, seperti:
1. Disesuaikan dengan kebutuhan belajar
2. Bisa diimplementasikan di kelas
3. Pengenalan aksara Jawa
4. Pengenalan angka Jawa
5. Cerita tentang aksara Jawa
6. Pengenalan vocal Jawa
7. Poin disetiap pembelajaran
8. Dan bebagai level yang tersedia sesuai dengan kemampuan.

Kamusku: Jawa (Indonesia)

Aplikasi ini berbentuk kamus digital Indonesia – Jawa offline. Aplikasi ini bersikikan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan sebaliknya.

Belajar Bahasa Jawa

Aplikasi belajar bahasa Jawa yang satu ini bisa dipergunakan sebagai kamus sederhana untuk menterjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Baik ke Jawa Ngoko, Krama, hingga Krama Inggil. Apliaksi ini berisikan kosakata sehari-hari yang sering digunakan untuk komunikasi.
Bagi Anda yang baru pertama kali belajar bahasa Jawa, mungkin aplikasi yang satu ini bisa sangat membantu. Terlebih lagi jika Anda ingin mencoba berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa untuk pertama kalinya.

Pepak Belajar Basa Jawa

Pepak Belajar Basa Jawa ini merupakan kamus belajar bahasa Jawa yang berisi konten edukatif mengenai materi dalam bahasa Jawa. Aplikasi ini berisi kosakata, Aksara Jawa dan jenisnya, hingga berbagai istilah-istilah dalam bahasa Jawa.

Pepak Basa Jawa juga didesain dengan tampilan yang edukatif sehingga akan lebih memotovasi anak-anak usia dasar saat belajar Bahasa Jawa. Dan pastinya bisa membuat anak-anak tidak cepat bosan.
Dengan menggunakan media pembelajaran berbasis digital semacam ini, kemungkinan besar belajar bahasa Jawa akan semakin mudah lagi. Dan, yang terpenting sebenarnya adalah belajar tidak menjadi kegiatan yang membosankan.

Categories
Bahasa Betawi

5 Fakta Unik Bahasa Betawi Yang Jarang Terekspos

BAHASA BETAWI – Perkembangan di era digital seperti sekarang ini memang berjalan begitu cepat. Termasuk dengan banyaknya keberanekaragaman dalam hal komunikasi. Tidak bisa dipungkiri jika budaya barat berkembang dengan cukup pesat di Indonesia. Coba sekarang Anda perhatikan lingkungan di sekitar Anda, banyak para orang tua yang justru mengajarkan anaknya untuk tidak menggunakan bahasa daerahnya. Para orang tua tersebut justru lebih memilih mengajarkan bahasa Indonesia atau bahasa asing sejak anaknya masih belajar bicara.

Memang hal tersebut bukan sesuatu yang salah. Tapi di sisi lain akan semakin membuat bahasa derah semakin tenggelam. Keadaan seperti ini pastinya kurang begitu baik untuk keberadaan bahasa daerah di masa depan. Bisa jadi 10 atau 20 tahun lagi, bahasa daerah Anda akan punah dimakan zaman.

Berbanding terbalik, justru budaya sendiri mulai ditinggalkan. Misalnya saja Bahasa Betawi. Suku Betawi yang sebenarnya merupakan penduduk asli Jakarta justru sudah banyak yang kurang berminat dengan bahasa asli derahnya tersebut.

Terlepas dari itu semua, penduduk asli dari Ibu Kota Indonesia ini memiliki cara berkomunikasi sendiri yang terbilang cukup unik. Apa saja keunikan dari bahasa Betawi? Simak terus ulasannya di sini.

Unsur Daerah

Bahasa Betawi bisa dibilang memiliki unsur daerah yang tinggi. Jakarta bisa dikatakan sebagai jantung dari negara Indonesia. Banyak orang yang berbondong-bondong untuk mengadu nasib setiap tahunnya.
Tapi untuk mengetahui penduduk asli Jakarta sangat mudah. Hanya dengan cara menggunakan bahasa Betawi, Anda akan paham mana yang asli Jakarta dan mana yang pendatang.

Keunikan dari unsur daerah inilah yang tidak akan dimiliki oleh para pendatang. Sebab para pendatang cenderung menggunakan bahasa Indonesia pada saat berkomunikasi. Keunikan unsur daerah Suku Betawi ini akan selalu ada karena menjadi hal yang cukup penting.

Digunakan Saat Kesenian

Bahasa Betawi sering sekali digunakan pada saat pentas, mulai dari alunan nyanyian, tarian daerah Betawi, pentas seni ondel-ondel, sampai dengan teater. Kesenaian dengan menggunakan bahasa daerah seperti ini penting untuk selalu dilestarikan.

Berbeda dengan kebanyakan daerah lain yang masih kurang mengimplementasikannya, bahasa Betawi justru menjadi bahasa utama dalam pagalaran lenong. Sebuah tontonan yang memberikan motivasi dan pesan moral berkenaan dengan kehidupan.

Penggunana bahasa dalam ajang kesenian semacam ini penting sekali untuk terus dipertahankan. Upaya semacam ini berguna untuk melestarikan kebudayaan yang ada. Jangan sampai budaya yang sudah turun-temurun sirna ditelan perkembangan zaman.

Apalagi melestarikan bahasa daerah sebenarnya sangatlah mudah, karena setiap hari pasti Anda berkomunikasi. Oleh sebab itu jangan pernah malu menggunakan bahasa Betawi untuk komunikasi sehari-hari.

Bahasa Gaul

Tahukah Anda jika bahasa Betawi lebih dikenal dengan istilah bahasa gaul. Fakta yang satu ini banyak dikatakan oleh masyarakat Betawi sendiri secara langsung. Banyak kosa-kata betawi yang justru booming di daerah lain dan berubah menjadi bahasa kaum milenial.

Contoh sederhananya adalah kata gue dan elo, yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia gue berarti saya, dan elo berarti kamu. Namun kosakata Betawi ini justru banyak dipahami sebagai bahasa gaul.

Hal ini kemungkinan besar ada andil yang cukup besar dari sinetron yang sering diotontonnya di televisi. Disinetron sendiri memang cukup banyak menggunakan bahasa tersebut. Jadi wajar saja jika masyarakat umum justru lebih mengenalnya sebagai bahasa gaul.
Dan, bahasa gaul ini memang memiliki aksen yang sedikit berbeda. Kemudian untuk penggunaannya sendiri pun menyesuaikan pada kebutuhan. Oleh sebab itu, kiranya cukup penting untuk memahami bagaimana pemahaman mengenai bahasa Betawi ini.

Kosakata yang Mudah

Penggunaan kosakata dari bahasa Betawi terbilang cukup mudah untuk dipahami. Oleh sebab itu, untuk Anda yang ingin belajar sungguh-sungguh dijamin akan cepat menguasainya. Sebab ada kemiripan dengan penggunanan kosakata dalam bahasa Indonesia.

Selain itu, terdapat begitu banyak kosakata yang bisa dengan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja penggunaan kata ayah menjadi babeh, ibu menjadi enyak, dan lain sebagainya.
Kemudian untuk kata-kata benda yang ada di dalam kehidupan sehari-hari juga banyak yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. Kemungkinan besar dari Anda sudah banyak yang mengerti arti dari kata bupet, yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti laci.

Di masyarakat sendiri, sebenarnya kata-kata seperti itu mudah sekali dikenal. Seperti halnya centong yang memiliki arti sendok makan. Karena itu, alangkah lebih baiknya untuk terus melestarikan basa tradisional Betawi ini.

Cocok untuk Segala usia

Foto Dokumentasi : Dimsum Jakarta – TheDimsum.ID – Stadion Utama Gelora Bung Karno

Berkenaan dengan pembelajaran bahasa Betawi sendiri bisa dilakukan sejak dini. Sebab kosakata yang ada tidak mengandung unsur kekerasan sedikitpun. Selain itu, kosakata dalam bahasa Betawi dibuat dengan begitu rapi dan tapat dalam hal penggunaanya.

Baik awalan maupun akhiran yang ada bisa dikatakan sangat tepat serta sesuai dengan kebutuhan. Oleh sebab itu, alangkah lebih baiknya jika mengajarkan bahasa daerah kepada anak sejak dini.

Yang mana, seseiorang justru akan lebih paham mengenai perkataan yang ada. Selain itu, peralihan bahasa yang digunakan juga tidak terlalu merepotkan dan sangat tepat. Jadi saat usia dini inilah waktu yang sangat tepat untuk mengenalkan salah satu bahasa daerahnya sendiri. Jangan justru Anda membiarkan bahasa derah tersebut punah begitu saja.

Selalu lestarikan budaya, sebab budaya inilah yang akan menjadi ciri khas dari daerah Anda sendiri. dengan begitu, segala hal yang berkaitan dengan kehidupan dan komunikasi haruslah menggunakan bahasa daerah tersebut. Dan, jangan sampai Anda sebagai masyarakat asli Betawi tidak paham bahasa derah Anda sendiri.

Categories
Bahasa Bali

Untuk Melestarikan Bahasa Bali, Pemprov Sampai Harus Turun Tangan

Kenapa yang harus dibahas adalah bahasa Bali? Tentunya ada yang setuju dan tidak setuju dengan pertanyaan yang tersebut. Bahkan ada beberapa yang berpura-pura tidak mengerti makna pertanyaan tersebut.
Pada zaman modern seperti sekarang ini, bahasa Bali bisa diibaratkan sebagai sebuah pohon tua yang setengah daunnya sudah kering berguguran. Meskipun demikian, akarnya masih tetap kokoh guna menopang dahan dan rantingnya.

Penutur bahasa Bali kini sudah mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Kondisi ini terjadi lantaran begitu pesatnya arus globalisasi yang membuat bahasa dan budaya asing bisa dengan mudah masuk ke Bali.

Apalagi pulau Bali bisa dikatakan sebagai tujuan para wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Maka dari itu, pengaruh arus globalisasi ini lebih kencang jika dibandingkan dengan derah lain yang ada di Indonesia.
Sementara itu, di sisi lain pola pikir kebanyakan para orang tua khusunya di Bali juga banyak yang sudah berubah. Yang mana kini banyak yang memaksakan anak-anaknya untuk belajar bahasa asing sejak dini.

Tapi jika dipikir lagi, rasa-rasanya hal semacam itu kurang bijak. Bukan bermaksud melarang belajar bahasa asing sejak dini, tapi alangkah lebih baiknya jika sebelum mempelajari bahasa orang lain, tanamkan terlebih dahulu kepada para generasi muda Bali untuk memahami behasa Ibu (bahasanya sendiri) terlebih dahulu.
Sudah jelas statement semacam ini akan menuai pro dan kontra. Akan tetapi kenapa Anda tidak berpikir secara perlahan terkait dengan pertanyaan di atas, dan kembali berpikir kenapa bahasa Bali harus dilestarikan.

I Nyoman Suka Ardiyasa, salah satu tokoh dan pemerhati bahasa Bali menyebutkan setidaknya ada 5 alasan kenapa bahasa Bali harus tetap dilestarikan, diantaranya adalah bahasa Bali merupakan identitas krama Bali.

Selain itu, bahasa Bali adalah akar budaya Bali. Dan, di sisi lain, bahasa Bali beralkulturasi dengan agam Hindu yang ada di Bali. Bahasa Bali juga bisa dikatakan sebagai simbol tata krama dan sopan santun masyarakat asli Bali. Dan, yang terakhir, bahasa Bali merupakan daya tarik pariwisata Bali.
Meskipun pernyataan di atas terbilang cukup singkat, tapi secara maksa sangat padat dan jelas. Oleh sebab itu, wajar saja jika Pemerintah Provinsi Bali sejak pertangahan tahun 2016 silam sudah genjar melakukan penyuluhan

Bahasa Bali di setiap Desa Dinas di Bali.

Yang terpenting sebenarnya adalah jangan pernah merasa gengsi pada saat menuturkan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai Anda malu dengan bahasa warisan nenek moyang Anda sendiri.

Pemprov Bali Terbitkan Pergub

Apa yang dilakukan oleh Pemprov Bali ini patut untuk diacungi jempol. Gubernur Bali sangat serius dalam upaya mempertahankan serta melestarikan bahasa Bali yang kini mulai kurang diminati, terutama oleh para kaum milenial.
Dalam upaya melestarikan bahasa Bali ini, Pemerintah Provinsi Bali telah melakukan berbagai upaya, diantaranya adalah dengan menerbitkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 terkait dengan Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta terkait dengan Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.
Setiap hari kamis, semua PNS yang ada di Bali diharuskan untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Bali dalam hal pelayanan publik, baik di kantor pemerintah dan swasta, hingga di BUMN dan BUMD. Tujuannya hanya satu, supaya bahasa Bali tidak punah karena terlindas oleh arus globalisasi.

Usai pemberlakuan pergub bahasa Bali tersebut, Pemprov langsung merancang dan melaksanakan bulan bahasa Bali, yakni setiap bulan Februari dalam satu tahun. Bulan Bahasa Bali ini bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk implementasi dari Pergub No. 80 Tahun 2018.

Sebelumnya, ada juga sejumlah implementasi dari Pergub tersebut yang juga sudah dilaksanakan, diantaranya seperti penggunaan Bahasa Bali dan pakaian adat Bali setiap hari kamis, hingga penggunaan aksara Bali pada papan nama seluruh Instansi yang ada di Pulau Dewata Bali.

Bahkan bisa dikatakan hingga saat ini sudah hampir 100% papan nama di Bali, baik pemerintah hingga swasta sudah menggunakan bahasa Bali. Dan, tak ketinggalan juga di Bandara, pelabuhan, terminal, yang merupakan pintu gerbang masuk ke Bali pintu gerbangnya juga sudah menggunakan bahasa Bali.
Beragam kegiatan sebagai langkah implementasi Pergub No. 80 Tahun 2018 ini diharapkan mampu memperkuat pelestarian bahasa daerah Bali yang harus bisa menjadi identitas orang Bali itu sendiri.
Sebagai orang asli Bali, penting kiranya untuk semakin memperkuat jati diri sebagai orang Bali dengan cara menghargai bahasa daerahnya sendiri serta mau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bulan Bahasa Bali

Untuk menyambut bulan bahasa Bali yang jatuh pada bulan Februari, bebagai lembaga pendidikan mulai dari TK sampai perguruan tinggi sudah banyak yang melakukannya. Sebuah kabar yang cukup positif terkait dengan pelestarian bahasa derah Bali.

Hingga saat ini, kegiatan bulan bahasa Bali pun terus dilakukan. Kegiatan tersebut ditandai dengan beberapa kegiatan mulai dari Nyurat (menulis di lontar) Aksara Bali secara masal, lomba, seminar, pemberian penghargaan, dan masih banyak lagi kegiatan yang lainnya.

Dipastikan, selama bulan Bahasa Bali tersebut, seluruh kegiatan akan menggunakan bahasa Bali secara penuh. Selain itu, para awak media yang meliputpun diharuskan untuk menggunakan bahasa Bali.
Para genarasi muda Bali penting kiranya untuk selalu menggunakan bahasa Bali sebagai jati diri warga Bali. Jangan sampai bahasa derah Bali ini terlindas oleh derasnya arus globalisasi.

Categories
Bahasa Batak

Daftar Rayuan Gombal Paling Populer Dalam Bahasa Karo

Bahasa karo bisa dikatakan sebagai bahasa yang digunakan oleh Suku Karo yang mendiami Dataran Tinggi Karo (Kabupaten Karo), Deli Serdang, Langkat, Medan, Dairi, hingga ke Aceh Tenggara.

Bahasa Karo ini secara historis ditulis dengan menggunakan aksara Karo atau yang lebih sering disebut dengan Surat Aru/Haru, yang sebenarnya merupakan turunan dari aksara Brahmi yang berasal dari India kuno.
Tapi sayangnya kini hanya sebagian kecil orang Karo yang bisa menulis atau memahami aksara Karo tersebut, sebaliknya banyak yang lebih memilih menggunakan aksara latin. Memang seiring perkembangan zaman hal seperti ini tidak bisa dihindari lagi.

Bahasa Karo sendiri masih sangat jarang dipahami oleh orang-orang, dan bahkan oleh orang Karo sendiri. Zaman yang sudah mulai berubah, serta kurang berminatnya anak-anak muda dari suku Karo, disinyalir menjadi faktot terbesar kenapa bahasa Karo kini kurang begitu digunanakan untuk komunikasi sehari-hari.

Mengenal Aksara Karo

Surat Aru (Haru) atau yang disebut juga dengan Tulisen (aksara) Karo ini bisa dikatakan sebagai salah satu aksara yang ada di Nusantara. Dikatakan Tulisen Karo lantaran tumbuh dan berkembang serta digunakan secara meluas di wilayah-wilayah suku Karo dan dipergunakan oleh masyarakat Karo untuk menulis cakap (bahasa) Karo.
Pada dasarnya, media dalam penulisan aksara Karo ini tidak jauh berbeda dengan aksara-aksara kuno lainnya, yang mana semua bisa dijadikan sebagai media tulis, baik bambu, kayu, batu, logam, daun, kertas, dan lain-lain. Tapi di Karo sendiri, media yang paling populer digunakan oleh masyarakat untuk menulis adalah bilah bambu atau kulit kayu.

Fakta semacam ini ditunjukkan dengan adanya kebiasaan dari masyarakat suku Karo zaman dahulu khususnya kaum mudanya yang sering menulis ratapan atau rintihan hidupnya khusunya yang berkaitan dengan urusan asmara pada kulit bambu maupun kayu, atau yang lebih populer dengan sebutan buluh bilang-bilang.
Tidaka hanya itu saja, di wilayah yang banyak ditinggali oleh masyarakat suku Karo juga cukup populer dengan surat kaleng. Dalam bahasa Karo sendiri dikenal dengan istilah musuh berngi (musuh dalam kegelapan/musuh malam) yang isi suratnya umumnya berisi nada tantangan ataupun ancaman.

Secara karakter dan pelafalan, aksara Karo ini sebenarnya ada kemiripan atau kesamaan dengan beberapa aksara non-latin lainnya yang ada di Nusantara, terlebih lagi di Sumatera. Misalnysa saja aksara dari daerah Simalungun, Pakpak, Kerinci, Lampung, Batak (Toba), dan lain-lain.
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, maka setelah itu lebih dikenal dengan aksara Karo, oleh karena fungsi serta penggunaannya sendiri, yakni yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat suku Karo. Disamping ada beberapa kekhasan lainnya.

Indung surat (huruf utama/huruf induk) bahasa Karo terdiri dari 21 surat (font/huruf), yang merupakana pelambangan konsonan. Meskipun dalam hal pelafalan serta pengejaannya bahasa Karo ini selalu diakhiri oleh bunyi “a” yang nota bene merupakan bunyi huruf vokal.

Selanjutnya, vokal serta karakter penjelasan lainnya (diakritik) dirangkum dalam kelompok anak surat (anak huruf) yang secara penempatannya rata-rata ada setelah indung surat.

Kemudian, anak surat dalam aksara Karo sendiri dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu 1) menghilangkan bunyi “a”, 2) Mengubah bunyi “a” menjadi “i, u, e’, é, dan o”, serta 3) menambah bunyi “h” dan “ng”.
Pada dasarnya, aksara Karo ini merupakan kelompok abuguida murini. Hal tersebut tampak jelas dalam pelafalan dan penulisan vokal-vokalnya yang bisa dibilang sangat mutlak, baik untuk vokal “a, i, u, e’, é, dan o”.
Kemudian, jika diperhatikan lebih mendalam lagi, tulisen (aksara) Karo ini juga memiliki ciri khas tersendiri yang begitu tampak pada dua indung suratnya, “nda” dan “mba”, yang mana kedua indung surat tersebut hanya bisa ditemui pada tulisen (aksara) Karo saja, dan merupakan khas logat Karo.

Dialek Bahasa Karo

Setelah mengulas mengenai aksara Karo, kini tibalah saatnya mengenal terkait dengan dialek bahasa Karo itu sendiri. Dialek dalam bahasa Karo pada umumnya dikenal ke dalam 3 buah pembagian, diantaranya adalah:

  1. Cakap Karo Gunung-gunung (Dialek Gunung-gunung). Dialek ini kebanyakan digunakan di derah Kecamatan Juhar. Munte, Kutabuluh, Tiga Binaga, dan Mardinding.
  2. Cakap Orang Julu (Dialek Kabanjahe). Dialek ini kebanyakan digunakan di derah Kecamatan Kabanjahe, Barus Jahe, Tiga Panah, Payung, dan Simpang Empat.
  3. Cakap Kalak Karo Jahe (Dialek Jahe-jahe). Dialek ini kebanyakan digunakan di derah Kecamatan Biru-biru, Pancur Batu, Lau Bekerei, Sibolangit, Namo Rambe (termasuk kabupaten Deli Serdang), serta di beberapa daerah yang ada di Kabupaten Langkat (Hulu) seperti halnya di Selapan, Bahorok, Kuala, dan lain-lain.

Rayuan Gombal Dalam Bahasa Karo

Dalam bahasa daerah manapun, pasti ada yang namanya bahasa khusus untuk memikat lawan jenis, begitupun juga yang ada pada bahasa Karo. Penasaran seperti apa orang suku Karo jika meraya lawan jenisnya?

  1. Ngene ateiku kam, dalam bahasa Indonesia kalimat ini berarti kau yang kucinta.
  2. Kam ngenca si kuarapken, dalam bahasa Indonesia kalimat ini berarti hanya kau yang selalu kuharapkan.
  3. Keleng ateiku kam , dalam bahasa Indonesia kalimat ini berarti aku sayang kepadamu.
  4. Buktiken adi ngenna dengan atendu, dalam bahasa Indonesia kalimat ini berarti buktikan bahwa kau masih cinta.
  5. Tuhan nge lalap si njaga kita, dalam bahasa Indonesia kalimat ini berarti Tuhan yang akan menjaga kita. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Seperti itulah sedikit ulasan mengenai bahasa Karo. Semodern apapun pemikiran dan gaya hidup Anda, akan lebih baik lagi jika tidak pernah melupakan warisan nenek moyang, contoh sederhananya seperti bahasa Karo ini.

Categories
Bahasa Batak

Mengenal Sumpah Serapah Dalam Bahasa Batak Paling Fenomenal

Makian orang Medan dalam bahasa Batak terbilang paling fenomenal dibanding makian orang-orang dari wilayah lain yang umumnya membawa-bawa satu kebun binatang. Sangat berbeda dengan anak Medan, banyak kaum milenila di Medan yang beranggapan jika makian tidak keran lagi jika masih menggunakan nama-nama binatang.
Sedih memang jadi orang Medan, padahal tidak ada niatan sama sekali untuk memaki atau berkata kasar, namun tetap saja banyak yang bilang apa yang keluar dari mulut Suku Batak terasa menyakitkan ditelinga.

Namun percayalah, sebenarnya hanya logat bicara Suku Batak saja yang kedengarannya kasar, namun hatinya dijamin lembut-lembut. Jadi jangan pernah tersinggung jika sedang berbicara dengan orang Batak.

Mengenal Kata-kata Makian Dalam Bahasa Batak

Hampir semua bahasa di wilayah Indonesia memiliki cara makian atau sumpah serapah sendiri-sendiri. Begitupun juga dengan orang Batak. Namun uniknya, kata makian dalam bahasa Batak justru jarang sekali yang memakai nama-nama binatang sekebun binatang.

Namun meskipun demikian, kata-kata makian tersebut masih terasa sangat panas dikuping. Terlebih lagi ditambah karakter suku Batak yang dikenal keras-keras dengan intonasi bicaranya yang seperti sedang membentak-bentak. Sudah pasti kata makian tersebut akan semakin mengena di hati orang yang mendengarnya.
Di bawah ini adalah beberapa kata-kata atau persisnya makian yang sering digunakan oleh masyarakat Medan masa kini, atau bisa dikatakan jenis makian yang paling populer atau paling familier.

Lepet
Jika Anda pernah mendengar teman dari Medan yang mengucapkan kata ini maka sebenarnya dia sedang memaki Anda, bukan kepengan dengan salah satu jenis makanan lepet. Jadi jangan senang dulu. Bisa jadi teman Anda saat itu sedang marah dengan Anda.

Kepala Otak Kau
Salah satu jenis makian dalam bahasa Batak yang sebenarnya tidak membawa nama-nama binatang yang ada di kebun binatang. Tapi jika sudah terkena makian pakai kata ini, rasa-rasanya makjleb seketika.

Lontong
Entah dari mana asal muasal dari kata makian yang satu ini. Kata makian yang menggunakan menu sarapan pagi yang sebenarnya selalu menjadi ciri khas kota Medan itu sendiri. Bisa jadi ini sebenarnya merupakan strategi promosi dengan cara menggunakan kata makian.

Find Traditional Local Folklore about Lake Toba from North Sumatra

Hoi Mancung
Hoi Mancung ini seringnya dipakai oleh orang Medan pada saat mendengar ada seseorang yang sedang berbicara namun isi pembicaraannya mengada-ada alias tidak benar sama sekali.

Mata Kau Lah
Jika diperhatikan, kata makian dalam bahasa Batak yang satu ini jika diucapkan dengan intonasi lembut saja sudah terdengar cukup kasar. Jika tidak percaya, coba kata makian ini Anda ucapkan kepada temanmu yang bukan orang Medan, pasti dirinya akan langsung bengong karena merasa dimaki tapi dia tidak terlalu paham dengan makian tersebut.

Kimbek Lah
Kimbek lah ini pada dasarnya merupakan kata dalam bahasa Batak yang memiliki makna cukup kasar, yaitu pukimak. Tapi lantaran terlalu kasar jadinya dipotong menjadi kimbek. Sedangkan kata lah di belakang ini merupakan kata yang selalu mengikuti apapun ekspresinya.

Ken Lap
Ken Lap ini merupakan pengertin dari kata gombal. Dalam bahasa Jawa, gombal adalah kain lap, namun kata gombal juga digunakan untuk istilah merayau. Jadi jika ada orang yang sedang memberikan kata-kata gombalan, biasanya orang Medan langsung memaki dengan kata Weeee……Ken Lap. Perlu dipahami juga bahwa orang Medan sangat tidak suka dengan gombalan.

Kreak (Belagu)
Orang Medan memang dikenal dengan sifat kerasnya. Namun sebenarnya ini merupakan ciri khas dari Medan itu sendiri. Sebab Medan didominasi oleh Suku Batak dan Melayu, yang mana Suku Batak dikenal memiliki watak yang keras dan bervokal suara besar.

Jadi tidak mengherankan jika sesama orang Medan sering membuli satu sama lain dengan bahasa yang cukup kasar. Dan, biasanya di Medan untuk menyebut orang-orang yang belagu menggunakan kata krek.

Getek (Genit)
Getek di sini bukan berarti alat transportasi untuk menyebrang sungai. Jika di Medan, getek memiliki arti sebutan untuk seseorang yang memiliki tingkah genit. Biasanya disertai dengan colek-colek dengan sapaan yang menggoda.

Congok (Rakus)
Jika menjumpai orang yang banyak makan, dalam bahasa Batak disebut dengan kata congok.

Tokoh (Bohong)
Jika dalam bahasa Indoensia “tokoh” ini memiliki arti seseorang yang penting dikalangan masyarakat, berbeda jika dalam bahasa Batak, tokoh memiliki arti yang sangat jauh berbeda “dibohongi”.

Bengak (Bego)
Jika Anda seringnya mendengar istilah bego untuk memaki seseorang, maka di Medan Anda akan lebih sering mendengar kata bengak. Dan, dalam bahasa Batak bengak ini berarti “bego”.

Memang cukup silit jika dijelaskan melalui rangkaian kata atau jika orang Batak Karo sering bilang La terkataken, pal. Selain itu perlu dipahami juga bahwa orang Medan selalu mengubah kata yang berakhiran vokal ‘ai’ menjadi ‘e’, seperti pantai menjadi pante, sungai menjadi sunge, cabai menjadi cabe, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kemudian, logat orang-orang Medan memang selalu terdengar kasar dan umumnya diakhiri dengan penekanan konsonan ‘k’, sehingga semua kata secara otomatis akan berakhiran konsonan ‘k’, seperti pula menjadi pulak, gigi menjadi gigik, dan lain sebagainya.

Dan, hal terakhir buat Anda yang ingin berkunjung ke Tanah Batak atau memiliki teman dari Suku Batak, sebaiknya jangan terkejut dengan vokal Suku Batak yang ketika berbicara seperti membentak-bentak. Memang seperti itulah karakternya. Dan, akan sangat sulit untuk merubahnya.